BB – Di tengah semilir angin pegunungan dan denyut kehidupan masyarakat Kabupaten Kupang yang bersahaja, gema harapan baru mulai terbangun melalui alunan suara yang tidak hanya merdu, namun juga sarat makna.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah daerah ini, Pemerintah Kabupaten Kupang menggelar ajang Pekan Seni Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) Kabupaten Kupang Tahun 2025, sebuah peristiwa budaya yang menandai langkah baru menuju peradaban yang lebih harmonis dan religius.

Diinisiasi oleh Bupati Kupang Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum Obe Titu Eki, PESPARAWI bukan sekadar panggung lomba—melainkan wujud nyata dari visi besar: meningkatkan kapasitas lembaga keagamaan sebagai fondasi menuju Kabupaten Kupang Emas.

Dalam semangat ini, Pemerintah Daerah melalui Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD II) memfasilitasi ruang inkubasi seni dan spiritualitas yang menjangkau seluruh daratan Timor.

Membawa tema “Aku Hendak Memuji Tuhan Pada Segala Waktu”, kegiatan ini tidak hanya mengajak umat untuk bernyanyi, tetapi juga untuk merenungi peran seni dalam membangun masyarakat yang toleran, kreatif, dan penuh kasih.

Lewat paduan suara, umat diajak menenun nilai – nilai iman, kerja sama, dan pengabdian dalam satu harmoni kebangsaan.

Ketua Panitia, Juliandri Seran, menjelaskan bahwa PESPARAWI akan diikuti oleh dua kategori peserta: dari gereja – gereja Kristen dan Katolik, hingga institusi dan organisasi lintas wilayah se-daratan Timor dan se – Kabupaten Kupang.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap jemaat, dari pelosok hingga pusat kota, mendapat kesempatan yang setara untuk mempersembahkan talenta terbaiknya,” ujarnya dengan semangat.

Lebih dari itu, kehadiran PESPARAWI juga merefleksikan semangat moderasi beragama di tengah keberagaman iman di NTT.

Ia menjadi panggung edukatif bagi generasi muda untuk mengekspresikan spiritualitas mereka secara kreatif, serta menjadi ajang silaturahmi yang memperkuat jaringan antar – lembaga keagamaan.

Tahapan kegiatan dimulai dengan pendaftaran peserta yang berlangsung dari 15 April hingga 30 Mei 2025, dilanjutkan dengan technical meeting, uji panggung, dan puncaknya adalah babak final pada 27 Juni 2025.

Piala bergilir Bupati Kupang menjadi simbol perjuangan bukan hanya dalam suara, melainkan dalam semangat pelayanan umat.

PESPARAWI ini bukan tentang siapa yang terbaik di atas panggung, tetapi siapa yang paling tulus mempersembahkan nada kepada Tuhan dan sesama.

“Lewat nyanyian, kita menyembuhkan luka, membangun semangat, dan merajut mimpi bersama untuk Kabupaten Kupang yang lebih manusiawi dan penuh cahaya,” tutur Bupati Lede dalam pesannya yang menyentuh.

Sebagaimana gema doa yang tak lekang oleh waktu, suara-suara dari PESPARAWI 2025 diharapkan menjadi denyut baru pembangunan Kabupaten Kupang—bukan hanya dalam infrastruktur, tetapi juga dalam iman, budaya, dan persaudaraan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.