BB – Tradisi Break yang dilaksanakan Jemaat Sonaf Neka Huilelot, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, akhir pekan ini, menandai lebih dari sekadar perayaan budaya tahunan,Minggu 27 April 2025
Melalui persembahan hasil bumi dan laut, masyarakat setempat menunjukkan bagaimana syukur spiritual dapat diterjemahkan dalam bentuk tanggung jawab sosial dan pembangunan komunitas yang berkelanjutan.
Acara syukur ini dihadiri langsung oleh Bupati Kupang, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun karakter jemaat melalui semangat syukur yang nyata, bukan sekadar seremonial.
Ia menegaskan bahwa tradisi Break harus dilihat sebagai momentum pembentukan etos kerja kolektif, tanggung jawab sosial, serta komitmen terhadap pembangunan rohani dan fisik jemaat.
“Syukur itu bukan hanya ucapan, tetapi tindakan nyata dalam membangun rumah Tuhan dan komunitas kita,” tegas Bupati Kupang di hadapan ratusan jemaat.
Persembahan hasil bumi dan laut menjadi simbolisasi konkret dari relasi harmonis manusia, alam, dan Sang Pencipta. Setiap panenan dan tangkapan laut yang dipersembahkan mencerminkan pemahaman mendalam jemaat tentang ketergantungan hidup kepada berkat ilahi, sekaligus mengokohkan nilai gotong royong dalam komunitas.
Lebih jauh, tradisi ini juga diposisikan sebagai ruang refleksi kolektif: sejauh mana hasil berkat alam mendorong kesadaran akan pentingnya merawat sumber daya secara berkelanjutan dan membangun solidaritas sosial.
Dalam pendekatan pembangunan yang ditekankan Bupati, prioritas diberikan pada keberlanjutan hasil nyata, seperti penyelesaian proyek pembangunan gereja secara tuntas dalam kurun waktu satu tahun.
Hal ini mencerminkan paradigma baru di Kabupaten Kupang: mengutamakan kualitas penyelesaian daripada sekadar jumlah proyek.
“Kalau kita membangun rumah Tuhan, jangan hanya berhenti di janji. Kita harus pastikan pekerjaan itu selesai dengan penuh tanggung jawab,” tambahnya.
Keberadaan tokoh adat, tokoh agama, hingga insan pers dalam perayaan ini juga menegaskan bahwa tradisi Break bukan milik satu kelompok semata, melainkan menjadi identitas kolektif masyarakat Semau yang mengikat berbagai unsur kehidupan sosial.
Acara kemudian ditutup dengan doa syukur dan jamuan kasih, mempererat relasi antarjemaat dan memperkuat tekad bersama membangun Kabupaten Kupang yang lebih maju, beriman, dan bermartabat.
Melalui persembahan hasil bumi dan laut, Jemaat Sonaf Neka Huilelot tidak hanya mengungkapkan syukur atas berkat yang diterima, tetapi juga memperlihatkan komitmen kuat terhadap nilai budaya, keberlanjutan hidup, dan solidaritas sosial – nilai-nilai yang menjadi fondasi kokoh dalam perjalanan pembangunan daerah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
