BB – Puluhan buruh bangunan dalam proyek Pembangunan 2100 Unit rumah bagi eks Timor – Timur dan warga lokal di Desa Camplong 2, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang Provinsi NTT menuntut hak mereka segera dibayar oleh PT Adhy Karya. Pada Senin 29 Juli 2024
Salah seorang buruh, Sutrisno kepada media ini mengatakan kami tenaga buruh dari PT Adhy Karya selama sebulan tidak diberi upah. Kami sudah bosan menagih upah kami yang terus dijanjikan dibayar minggu depan namun tak kunjung direalisasikan.
“Kami sudah berkali-kali menagih ke proyek, tapi selalu dijanjikan minggu depan. Sampai sekarang belum ada pembayaran dari perusahaan melalui mandor,”ungkap buruh bangunan kesal.
Ia juga mengungkapkan bahwa selama menjadi buruh di proyek tersebut, pembayaran upah mereka sering dipersulit oleh pihak perusahaan dengan berbagai alasan. Bahkan Air untuk mandi saja susah. Sehingga 2 (dua) hari sekali baru kami mandi.
Mirisnya, dampak dari upah tidak dibayar Perusahaan, kontrakan yang mereka tempati pun belum dibayar hingga Saat ini.
“Kontrakan yang kami tempati hingga saat ini belum dibayar. Ini dampak dari upah kami belum dibayar oleh PT Adhy Karya. Jangankan bayar kontrakan, kami makan dan minum saja kami harus berhutang di kios. Pihak perusahaan hanya memberikan harapan agar kami terus bekerja, padahal itu palsu belaka”, ungkap para buruh bangunan.
Senada dengan buruh bangunan yang lainnya yang juga enggan namanya disebutkan, mengatakan sejak awal mereka dipersulit soal pembayaran upah kerja. Karena itu, Hari ini kami hanya menuntut hak kami dan kami juga minta pulang kami. Saat ini kami sangat menderita.
Walaupun demikian mereka masih memberi kesempatan untuk Perusahaan memenuhi kewajibannya. “Kami masih punya itikad baik. Kami melihat satu dan dua hari ke depan. Kalau upah pembayaran kami tidak direalisasikan maka kami melaporkan ke pihak yang berwajid”, ungkapnya tegas.
Mereka juga mempertanyakan kenapa tagihan upah itu selalu ditunda dan dipersulit dengan alasan macam-macam. Bahkan mereka selalu menjanjikan dengan memberikan harapan kepada kami agar terus bekerja agar fisik proyek tidak terlambat.
Sebagai pekerja yang didatangkan dari luar NTT tentu memiliki kemampuan yang harus dihargai oleh perusahaan, mengingat mereka harus mengirimkan uang untuk kelangsungan hidup keluarga yang ditinggalkan.
“Kami kerja profesional, disuruh cepat ya kami cepat tetapi giliran bayar malah Tarik ulur dan tunda terus, kalau pembayaran tidak ada maka keluarga kami mau makan apa, kami kerja untuk cari hidup bukan untuk cari mati,” pungkasnya
Sementara kepala Desa Kuimasi, Maksen Lifu berharap kepada PT Adhy Karya agar segera membayarkan upah para buruh ini secepatnya. Saya tidak mau terjadi hal – hal yang tidak diinginkan terjadi di wilayah saya,”ucap kades Tegas.
Mandor PT Adhy Karya yang di hubungi tim Media ini Via WhatsApp mengatakan, “mas saya lagi di Kendari, lagi urus proyek. Sekitar Rabu atau jumat sudah bayar upah para pekerja yang lagi protes itu mas. “Mas dapat nomor telfon saya dari siapa,” ucapnya
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
