Transparansi Diuji! ‘Asa dan Rasa’ Ungkap Harapan vs Realitas Pemerintahan NTT

KUPANG, BBC – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan buku Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT sebagai bentuk keterbukaan atas capaian dan tantangan awal kepemimpinan Gubernur Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Jhoni Asadoma.

Peluncuran buku ini menjadi penanda upaya pemerintah menghadirkan transparansi yang lebih substantif, dengan tidak hanya menampilkan keberhasilan program, tetapi juga mengakui keterbatasan serta hambatan yang dihadapi dalam satu tahun pertama pemerintahan.

Dalam narasi yang disampaikan, pemerintah menegaskan bahwa periode satu tahun merupakan fase krusial untuk menentukan arah kebijakan dan membangun fondasi transformasi pembangunan di NTT. Meski belum menghasilkan perubahan signifikan, tahap awal ini dinilai penting untuk menguji konsistensi visi dan komitmen pembangunan.

“Setahun memang belum cukup untuk mengubah segalanya, tetapi cukup untuk menunjukkan arah dan keseriusan pemerintah dalam bekerja,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam peluncuran buku tersebut.

Buku Asa dan Rasa memuat refleksi atas berbagai kebijakan, capaian program, serta dinamika implementasi di lapangan. Di dalamnya tergambar ketegangan antara harapan publik yang tinggi dengan realitas birokrasi dan keterbatasan sumber daya yang masih dihadapi pemerintah daerah.

Tim penyusun menilai, jarak antara “asa” dan “rasa” bukanlah kegagalan, melainkan proses yang wajar dalam tahapan pembangunan. Namun, keterbukaan terhadap realitas tersebut menjadi indikator penting dalam mengukur kualitas tata kelola pemerintahan.

Peluncuran buku ini juga dimaksudkan sebagai ruang dialog publik. Pemerintah membuka peluang bagi masyarakat untuk menilai, mengkritisi, dan memberi masukan terhadap arah kebijakan yang sedang berjalan.

Pelaksana tugas Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, Lery Rupidara, menyampaikan bahwa partisipasi publik menjadi elemen penting dalam memperkuat kualitas demokrasi dan pembangunan daerah.

“Refleksi ini bukan titik akhir, tetapi bagian dari proses bersama untuk terus memperbaiki arah pembangunan,” ujarnya.

Selain aspek transparansi, peluncuran buku ini juga membawa pesan strategis tentang pentingnya membangun budaya literasi. Pemerintah mendorong masyarakat untuk aktif menulis dan membaca sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang kritis dan berdaya saing.

Kutipan pemikiran Benjamin Franklin, “the shortest pencil is longer than the longest memory”, turut disampaikan sebagai pengingat bahwa dokumentasi menjadi bagian penting dalam proses pembangunan dan peradaban.

Peluncuran Asa dan Rasa mencerminkan upaya Pemerintah Provinsi NTT untuk keluar dari pola komunikasi birokrasi yang cenderung normatif menuju pendekatan yang lebih reflektif dan terbuka. Dalam konteks ini, transparansi tidak lagi dimaknai sebatas penyampaian data, tetapi juga keberanian mengakui kesenjangan antara target dan realisasi.

Namun, transparansi berbasis narasi reflektif ini juga menghadapi tantangan. Tanpa diikuti indikator kinerja yang terukur dan tindak lanjut kebijakan yang konkret, refleksi berpotensi berhenti pada tataran simbolik. Publik akan menilai bukan hanya dari apa yang ditulis, tetapi dari sejauh mana refleksi tersebut diterjemahkan menjadi perbaikan nyata.

Di sisi lain, penguatan budaya literasi yang diusung melalui buku ini menjadi langkah strategis dalam jangka panjang. Literasi tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi, tetapi juga sebagai instrumen kontrol sosial yang memungkinkan masyarakat lebih kritis terhadap kebijakan publik.

Joni Asadoma Tegaskan! ‘Asa dan Rasa’ Bukan Sekadar Buku, Tapi Cermin Jujur Pemerintahan NTT

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Jhoni Asadoma, menegaskan bahwa buku Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT bukan sekadar laporan kinerja, melainkan cermin jujur perjalanan awal pemerintahan dalam menjawab harapan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peluncuran buku yang digelar di Kupang, Kamis (9/4), sebagai bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTT menghadirkan transparansi dan refleksi terbuka atas capaian serta tantangan pembangunan.

Menurut Jhoni, pendekatan reflektif dalam buku tersebut menjadi penting untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari indikator statistik, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

“Pembangunan bukan sekadar angka, tetapi bagaimana dampaknya hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Di situlah ‘rasa’ menjadi penting untuk menguji ‘asa’ yang dititipkan rakyat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep “asa” dan “rasa” dalam buku tersebut menggambarkan hubungan antara harapan kolektif publik dengan realitas implementasi kebijakan di lapangan. Kedua hal itu, menurutnya, harus terus diuji melalui refleksi yang jujur dan terbuka.

Lebih lanjut, Jhoni menekankan pentingnya keberanian pemerintah untuk melihat diri secara objektif, termasuk mengakui kekurangan dan tantangan yang masih dihadapi. Ia menilai, transparansi semacam ini merupakan bagian dari praktik demokrasi yang sehat.

“Kalau kita ingin maju, kita harus berani jujur. Dari kejujuran itulah lahir perbaikan,” tegasnya.

Ia juga menyebut, satu tahun pertama pemerintahan merupakan fase awal yang menentukan arah kebijakan jangka panjang. Pada tahap ini, pemerintah tengah fokus membangun fondasi pembangunan melalui berbagai program strategis, seperti peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan serta reformasi birokrasi.

Namun demikian, Jhoni mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa dicapai oleh pemerintah semata. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media, menjadi kunci utama.

“Pembangunan adalah kerja bersama. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri,” katanya.

Selain mendorong transparansi, peluncuran buku ini juga menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi di NTT. Pemerintah berharap tradisi membaca dan menulis dapat tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, sekaligus menjadi sarana kontrol publik terhadap kebijakan.

Jhoni turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan buku, mulai dari penulis, editor, hingga penerbit, yang dinilai telah berkontribusi dalam menghadirkan ruang refleksi yang konstruktif.

Ia berharap buku Asa dan Rasa tidak berhenti sebagai dokumentasi semata, tetapi menjadi awal dari dialog publik yang berkelanjutan serta referensi dalam merumuskan kebijakan yang lebih responsif.

“Ini adalah proses belajar bersama. Baik pemerintah maupun masyarakat, kita semua sedang bertumbuh untuk membangun NTT yang lebih baik,” ujarnya.

Melalui peluncuran buku ini, Pemerintah Provinsi NTT menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang refleksi, memperkuat transparansi, dan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berakar pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Dengan demikian, Asa dan Rasa dapat dilihat sebagai langkah awal menuju tata kelola pemerintahan yang lebih akuntabel. Namun, keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh konsistensi pemerintah dalam menindaklanjuti refleksi tersebut ke dalam kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

 

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.