Kupang, BBC – Perjalanan panjang 150 tahun Jemaat Nazareth Riumata di Desa Nekbaun, Kecamatan Amarasi Barat, adalah narasi sejarah yang lebih besar daripada sekadar perayaan liturgi.
Usia ini merupakan akumulasi dari iman, perjuangan dan kebersamaan jemaat dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan tantangan zaman.
Karena itu, ibadah syukur bukan hanya ritual religius, melainkan juga refleksi atas eksistensi gereja sebagai lembaga spiritual sekaligus institusi sosial.
Ibadah Minggu yang dipimpin Pendeta Yunus Edi Wantoro Manu dan Pendeta Nontje Liberti Manu Kaho menjadi simbol dialektika rohani: doa dan syair liturgi berpadu menjadi narasi kolektif iman. Syair doa yang mengalun menghadirkan ruang kontemplatif, di mana jemaat menyadari bahwa setiap dekade yang berlalu adalah jejak penyertaan Tuhan.
Kehadiran Bupati Kupang Yosef Lede bersama para pejabat daerah semakin menegaskan bahwa gereja, dalam usianya yang panjang, memiliki makna publik yang melampaui batas dinding rohani.
Dalam sambutannya, Bupati Yosef Lede menyatakan bahwa usia 150 tahun adalah bukti kedewasaan iman.
“Usia ini menandakan pertumbuhan rohani dan kedewasaan iman. Tuhan menjaga, melindungi, dan menyertai hingga kita ada di hari ini,” ujarnya.
Refleksi ini selaras dengan pandangan akademis bahwa gereja berfungsi sebagai memori kolektif. Setiap perselisihan, rekonsiliasi, cinta kasih, bahkan konflik yang terjadi dalam tubuh jemaat menjadi bagian dari narasi historis yang justru memperkuat identitas spiritual.
Seperti ditegaskan Ketua Majelis Klasis Amarasi Barat, Pendeta Wim Nunuhitu, ulang tahun ke-150 bukan sekadar momentum nostalgia, melainkan juga kesempatan untuk mengevaluasi arah pelayanan, agar tetap relevan bagi umat dan masyarakat.
Keberadaan gereja berusia 150 tahun dapat dibaca sebagai fenomena sosial-religius. Gereja tidak hanya hadir sebagai ruang ibadah, melainkan juga sebagai arena pendidikan moral, solidaritas sosial dan penguatan identitas budaya.
Bupati Yosef Lede menegaskan hal ini dengan menyebut gereja sebagai simbol ketahanan spiritual sekaligus ruang publik rohani.
“Usia gereja yang panjang adalah amanah. Kita diundang bukan hanya untuk bersyukur, tetapi juga untuk bertumbuh, memberi teladan dan membangun kebersamaan dalam kasih Kristus,” tandasnya.
Perayaan syukur 150 tahun Jemaat Nazareth Riumata pada akhirnya dapat dipandang sebagai sebuah teks yang hidup. Ia mengajarkan tentang dialektika iman dan budaya, pergumulan dan harapan, doa dan tindakan sosial.
Ibadah ini sekaligus meneguhkan bahwa iman tidak statis, melainkan terus bertumbuh seiring sejarah yang ditulis bersama.
Syair doa yang mengalun menjadi metafora: doa adalah puisi iman, sedangkan iman adalah naskah sejarah yang terus diperbarui. Dengan demikian, ulang tahun ke-150 bukanlah titik akhir, melainkan fondasi baru bagi pelayanan yang lebih kontekstual, inklusif dan visioner.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
