Kupang, BBC — Hujan tidak sekadar jatuh; ia seakan berduka bersama tanah. Langit menggantung kelabu, menurunkan air tanpa jeda, sementara jalan menuju Desa Tanini, Kecamatan Takari, terentang dalam lumpur, batu dan licin yang menyakitkan langkah.
Medan yang terjal dan cuaca yang muram seolah menjadi metafora panjang tentang keterisolasian, kesabaran dan keteguhan masyarakat di pelosok Kabupaten Kupang.
Dalam kondisi alam yang demikian, perjalanan tidak lagi soal jarak, melainkan tentang niat dan keberanian moral. Namun bagi Bupati Kupang, Yosef Lede hujan yang dingin dan medan yang menguras tenaga bukanlah alasan untuk menunda kehadiran.
Di balik kabut yang menutup pandangan dan tanah basah yang menghambat laju kendaraan, langkah pengabdian tetap diarahkan menuju Jemaat GMIT Betel Nunasi, sebuah perjumpaan yang telah lama dinanti umat.
Pada Minggu (18/1), Yosef Lede bersama Ketua Sinode GMIT, Pendeta Semuel Pandie, menembus cuaca buruk demi menghadiri Pembukaan Sidang Klasis Fatuleu Timur ke-XIV Tahun 2026, yang diselenggarakan di Gereja GMIT Betel Nunasi, Desa Tanini.
Perjalanan ini bukan sekadar mobilitas fisik pejabat dan pemimpin gereja, melainkan simbol komitmen relasional antara negara, gereja, dan umat—komitmen yang diuji oleh alam dan kesunyian wilayah pinggiran.
Pembukaan sidang dilaksanakan dalam kebaktian Minggu yang khidmat. Di dalam gedung gereja, doa-doa dipanjatkan dengan suara lirih namun penuh pengharapan, bersahut dengan bunyi hujan yang terus mengetuk atap, seakan alam turut berdoa dalam bahasa kesedihannya sendiri.
Momentum iman tersebut kemudian dirangkai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Gereja Betel Nunasi, yang dilakukan oleh Bupati Kupang, Ketua Sinode GMIT, serta anggota DPRD Kabupaten Kupang, Habel Mbate.
Batu pertama itu diletakkan bukan hanya di atas tanah yang basah, tetapi juga di atas harapan jemaat yang lama bertahan dalam keterbatasan.
Dalam sambutannya, Yosef Lede menegaskan bahwa kehadiran pemerintah dan gereja di tengah masyarakat harus membawa dampak positif yang nyata, bukan sekadar simbolik.
Kolaborasi yang dibangun, menurutnya, harus mampu menjawab luka-luka sosial, ekonomi, dan spiritual yang selama ini dirasakan masyarakat.
Ia berharap Sidang Klasis Fatuleu Timur ke-XIV Tahun 2026 dapat melahirkan program-program pelayanan yang tidak hanya menguatkan iman jemaat, tetapi juga mendukung percepatan pembangunan Kabupaten Kupang, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.
“Kita Pemerintah Kabupaten Kupang sudah ada MoU dengan GMIT dalam hal kolaborasi program pembangunan di Kabupaten Kupang dan program pelayanan GMIT di wilayah Kabupaten Kupang karena sejatinya tujuan program pembangunan dan program pelayanan Gereja itu satu, yaitu peningkatan derajat kehidupan masyarakat yang di dalamnya ada jemaat-jemaat,” jelas Yosef Lede.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Kupang membuka ruang seluas-luasnya bagi sinergi program antara pemerintah daerah dan klasis-klasis GMIT di seluruh wilayah Kabupaten Kupang, sebagai upaya kolektif membangun manusia dan ruang hidupnya.
Di tengah keterbatasan fiskal yang dihadapi daerah, Yosef Lede juga mengakui adanya isu efisiensi anggaran yang sedikit banyak berdampak pada pelayanan pemerintah kepada masyarakat, termasuk jemaat GMIT.
Namun ia menegaskan komitmen pemerintah untuk bekerja keras agar dampak kebijakan tersebut tidak terlalu besar dirasakan oleh masyarakat, khususnya mereka yang berada di wilayah terpencil.
Lebih lanjut, Yosef Lede mengajak GMIT untuk bersama-sama membantu pemerintah dalam mendorong kesadaran dan motivasi masyarakat agar memanfaatkan seluruh potensi yang ada, terutama di sektor pertanian, demi peningkatan kesejahteraan bersama.
“Pemerintah Kabupaten Kupang sudah berupaya membantu masyarakat meningkatkan derajat kehidupannya. Kita lobi ke Pemerintah Pusat dan mendapat bantuan alsintan dalam jumlah yang masif,” ujar Yosef Lede.
Ia mengungkapkan bahwa pemerintah baru saja memperoleh bantuan untuk pengembangan 700 hektare tanaman jambu mente, yang akan dialokasikan ke wilayah-wilayah potensial seperti Fatuleu, Takari dan Amfoang.
Selain itu, pemerintah juga tengah mengupayakan pengadaan satu juta pohon kopi dan jeruk, yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan, tidak hanya dalam sektor pertanian, tetapi juga sebagai basis pengembangan agrowisata.
“Ini peluang-peluang yang diupayakan Pemerintah Kabupaten Kupang dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh masyarakat. Kami juga meminta para Pendeta untuk mendukung kami, terus memotivasi jemaat untuk menanam. Jangan biarkan sejengkal tanah dibiarkan tidak ditanami,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pendeta Semuel Pandie dalam suara gembalanya mengingatkan bahwa persidangan gereja sejatinya adalah ibadah. Oleh karena itu, setiap proses persidangan, termasuk Sidang Klasis Fatuleu Timur ke-XIV Tahun 2026, harus membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan serta relasi yang sehat dan penuh kasih antar sesama peserta.
Relasi yang hidup dan reflektif tersebut, menurutnya, akan melahirkan keputusan-keputusan persidangan yang mampu meningkatkan mutu pelayanan gereja di Klasis Fatuleu Timur.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Kupang, Camat Takari, Ketua Majelis Klasis Fatuleu Timur, para pendeta se-Klasis Fatuleu Timur, serta warga jemaat setempat.
Di tengah hujan yang terus jatuh dan medan yang seakan tak pernah ramah, Sidang Klasis pun dibuka. Jalan berlumpur menjadi saksi bisu bahwa pengabdian sejati tidak tunduk pada cuaca dan pelayanan yang lahir dari nurani tidak pernah berhenti oleh keterbatasan alam maupun kesunyian wilayah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
