Kupang, BBC – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah hadir sebagai salah satu instrumen strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus ketahanan gizi anak-anak bangsa.
Di tengah tingginya kasus stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT), program ini menjadi harapan baru. Namun, pelaksanaan di lapangan menunjukkan bahwa niat baik pemerintah masih menghadapi tantangan serius.
SMP Negeri 2 Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, mendapati makanan yang disalurkan melalui program MBG dalam kondisi tidak layak konsumsi karena ditemukan ulat di dalamnya.
Fakta ini sontak memicu keprihatinan, sekaligus menegaskan bahwa program besar sekalipun akan kehilangan legitimasi jika tidak disertai dengan kualitas distribusi yang memadai.
Kepala Sekolah SMPN 2 Amabi Oefeto, Gratianus L. Nggadas, S.Pd, kepada media ini, Kamis 02/10/2205 dengan tegas menyampaikan sikapnya.
Ia tetap mengapresiasi kehadiran program MBG, karena lebih dari 93 siswanya kini mendapatkan akses makan siang bergizi yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun ia juga menekankan bahwa aspek kualitas tidak boleh dinegosiasikan.
“Program ini sangat membantu anak-anak kami. Tapi kalau makanan yang datang sudah rusak atau ditemukan ulat, tentu menjadi masalah serius. Anak-anak bisa terpaksa makan dan jika terjadi sesuatu, guru yang akan diminta bertanggung jawab oleh orang tua,” ungkapnya penuh keprihatinan.
Pernyataan tersebut menggambarkan dilema nyata di sekolah: di satu sisi MBG menghadirkan manfaat, di sisi lain ada ancaman jika standar gizi dan kebersihan tidak dijaga dengan ketat.
Faktor waktu distribusi makanan menjadi salah satu penyebab utama. Gratianus menjelaskan bahwa makanan dari dapur penyedia MBG baru tiba di sekolah sekitar pukul 12 siang.
Kondisi ini membuat makanan rentan basi, apalagi jika proses pengolahan dan penyimpanan tidak sesuai standar kesehatan.
“Kami sudah mengingatkan lewat grup komunikasi agar penyedia memperhatikan waktu distribusi. Kalau antar sudah siang, tentu risiko kerusakan semakin tinggi. Kami khawatir anak-anak tetap memaksa makan dan itu bisa berbahaya,” tambahnya.
Distribusi makanan yang terlambat, ditambah dengan minimnya pengawasan terhadap standar sanitasi, berpotensi mengubah niat baik menjadi sumber masalah kesehatan baru.
MBG merupakan bentuk intervensi gizi berbasis pendidikan yang selaras dengan strategi global penanggulangan malnutrisi.
Program ini tidak hanya berfungsi sebagai pemberian makan gratis, tetapi juga sebagai instrumen social protection (perlindungan sosial) yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia
Namun, tanpa manajemen rantai pasok (supply chain management) yang baik, tujuan luhur itu bisa terhambat. Dalam konteks SMPN 2 Amabi Oefeto, masalah distribusi dan kualitas justru menegaskan perlunya sistem monitoring yang terukur dan melibatkan pihak sekolah secara aktif.
Meski menghadapi kenyataan pahit, pihak sekolah tetap tidak menolak program ini. Gratianus menyampaikan apresiasi dan menegaskan bahwa MBG adalah kebijakan strategis yang harus dipertahankan.
Namun, ia berharap ada evaluasi menyeluruh, mulai dari dapur penyedia, proses distribusi, hingga pengawasan di tingkat sekolah.
“Perbaikan saja. Kita sama-sama benahi. Karena program ini baik, hanya perlu diawasi agar benar-benar sehat dan aman bagi anak-anak kami,” tandasnya.
Pernyataan tersebut bukanlah penolakan, melainkan kritik konstruktif agar pemerintah tidak lengah dan penyedia layanan tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi benar-benar mengutamakan kualitas.
Temuan ulat dalam makanan MBG di SMPN 2 Amabi Oefeto adalah alarm moral bagi semua pemangku kepentingan. Program baik jangan sampai ternodai oleh kelalaian teknis.
Jika hal ini dibiarkan berulang, maka publik bisa kehilangan kepercayaan, padahal MBG sejatinya adalah langkah monumental untuk menjawab persoalan gizi anak di NTT.
Kesehatan anak-anak harus ditempatkan sebagai prioritas tertinggi. Artinya, MBG tidak hanya tentang memberi makan, tetapi tentang memberi jaminan bahwa yang dimakan adalah benar-benar sehat, bergizi dan aman.
Sampai berita ini diturunkan dapur MBG Fatukanutu belum berhasil di konfirmasi media
Tim media tetap membuka ruang untuk memperoleh hak jawab
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
