KUPANG,BBC – Pagi yang semula berjalan normal di SMK-PP Negeri Kupang (SNAKMA) berubah menjadi situasi darurat pada Kamis (14/8/2025).
Sebanyak 25 siswa, mayoritas perempuan, mengalami gejala keracunan makanan usai sarapan di asrama sekolah dan dilarikan ke RSUD Naibonat untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut keterangan Nita Kanu, siswi kelas XI yang turut menjadi korban, insiden bermula setelah sarapan sekitar pukul 06.00 WITA. Menu yang disajikan pagi itu terdiri atas nasi putih, sayur kol dan tahu goreng.
“Awalnya saya baik-baik saja, tapi beberapa menit kemudian mulai pusing, penglihatan berkunang-kunang, lalu mual dan muntah. Rasa sayur kol yang disajikan memang agak asam, tetapi karena lapar saya tetap makan,” ungkap Nita saat ditemui di ruang UGD RSUD Naibonat.
Gejala serupa dialami oleh teman-teman satu asramanya, yang kemudian membuat pihak sekolah segera melakukan evakuasi menggunakan kendaraan sekolah menuju rumah sakit terdekat.
Berdasarkan pengakuan korban dan indikasi rasa makanan yang tidak segar, dugaan awal mengarah pada sayur kol yang telah mengalami proses pembusukan sebagian.
Sayuran yang disimpan pada suhu ruang dalam waktu lama berpotensi mengalami peningkatan populasi mikroorganisme patogen seperti Escherichia coli dan Salmonella. Kedua jenis bakteri ini diketahui dapat memicu gejala akut seperti mual, muntah, pusing, diare dan dehidrasi dalam waktu singkat.
Keracunan makanan jenis ini termasuk kategori foodborne illness yang bersifat acute onset, di mana gejala muncul cepat setelah konsumsi. Faktor risiko meliputi bahan pangan yang tidak segar, teknik pengolahan yang tidak tepat dan sanitasi peralatan masak yang kurang memadai.
Kasus keracunan massal di SNAKMA Kupang memberikan implikasi serius terhadap pentingnya penerapan standar keamanan pangan di lingkungan pendidikan berasrama. Setiap pengelola dapur sekolah wajib memiliki prosedur operasional baku (SOP) yang mencakup
Pemeriksaan organoleptik bahan pangan sebelum diolah.
Penyimpanan sayuran pada suhu yang sesuai untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
Pembersihan peralatan masak dengan metode higienis.
Pengaturan jadwal rotasi bahan pangan untuk menghindari penumpukan stok yang berisiko basi.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan merupakan komponen fundamental dalam menjaga kesehatan peserta didik, sekaligus mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum menyampaikan keterangan resmi terkait kronologi detail maupun langkah penanganan internal pasca insiden.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
