BB – Suara dari pelosok ini bukan teriakan, tapi ratapan. Bukan sekadar keluhan, tapi tangisan yang telah lama diredam.

Dari Desa Nonbaun, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, tersiar kabar pilu tentang jalan rusak yang tak kunjung mendapat kepedulian.

Sudah belasan tahun, warga desa ini menunggu jawaban dari negara—namun yang datang hanya satu kata: “Nanti.”

Nehemia Tfuakan, warga asli sekaligus mantan Kepala Desa Nonbaun selama tiga periode, menyuarakan isi hati warganya yang selama ini merasa terpinggirkan.

“Kami bukan minta istana, kami cuma minta jalan. Tapi setiap tahun, hanya kata ‘nanti’ yang kami dapat,” kata Nehemia dengan suara tertahan, sambil menunduk menahan tangis,Selasa 24 Juni 2025 sore

Jalan utama yang menghubungkan Desa Passi dan Nonbaun kini lebih mirip kubangan lumpur di musim hujan, dan berdebu parah di musim kemarau.

Tak hanya menyulitkan mobilitas warga, tapi juga menghambat akses anak-anak ke sekolah, mengancam keselamatan ibu hamil, dan menyulitkan petani menjual hasil kebun ke pasar.

Ironisnya, jalan tersebut berstatus jalan kabupaten, sehingga tak bisa diperbaiki menggunakan dana desa. Padahal, usulan demi usulan telah berkali-kali dilayangkan dalam forum resmi.

Bahkan, jalan Nonbaun pernah tercatat sebagai peringkat pertama usulan infrastruktur Musrenbang Kabupaten Kupang.

“Kami ibarat ikan menanti air. Hidup, tapi sekarat. Kami punya semangat gotong royong—bawa semen, bawa pasir—asal jalan ini bisa dilewati. Tapi kami hanya rakyat biasa, kami tak punya APBD,” ujar Nehemia getir.

Lebih menyakitkan lagi, Nehemia mengenang saat ia bersama tokoh adat datang menghadap Bupati Kupang periode 2019–2024 secara adat, menyerahkan permohonan pembangunan jalan. Sebuah tradisi yang sarat penghormatan, namun dibalas dengan janji yang kosong.

“Waktu itu, Bupati hanya jawab: ‘Nanti kita atur’. Tapi sampai masa jabatannya selesai, tidak ada satu pun alat berat masuk desa kami,” kenang Nehemia, dengan mata berkaca-kaca.

Kini, warga Nonbaun menatap satu-satunya harapan yang tersisa: pasangan Bupati Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum Titu Eki. Mereka berharap kepemimpinan baru ini bukan hanya datang dengan janji, tapi benar-benar hadir di tengah penderitaan rakyat.

“Kami tidak butuh baliho, tidak butuh janji manis. Kami hanya butuh jalan. Itu saja. Biar anak kami tidak lumpur-lumpuran ke sekolah, biar ibu-ibu bisa selamat melahirkan, biar petani bisa bawa hasil panen dengan layak,” ujar Nehemia dengan suara penuh harap.

Ia menambahkan, selama ini nama Nonbaun selalu disebut dalam perencanaan, tapi pelaksanaannya selalu berpindah ke desa lain.

“Desa ganti desa. Kami dijadikan angka, tapi tidak dijadikan nyata. Kami sudah lelah dibohongi.”

Kisah ini bukan hanya tentang satu desa, tapi tentang ribuan desa lain yang mungkin bernasib serupa—yang hanya jadi catatan prioritas di atas kertas, namun tak pernah disentuh oleh kaki pembangunan.

“Kami tidak minta istana. Kami cuma ingin jalan. Supaya hidup kami tak selamanya jadi penantian,” tutup Nehemia, kali ini dengan nada berat yang menggambarkan luka mendalam yang belum juga sembuh.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.