Kupang, BBC — Langit malam menyelimuti ibu kota dengan dingin yang diam-diam menusuk. Di balik keramaian Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, seorang pemuda asal Timur tengah berjuang sendirian, jauh dari rumah, tanpa pelindung, tanpa tumpuan, selain harapan.

Dialah Aurum Obe Titu Eki, sosok yang kini dikenal sebagai Wakil Bupati Kupang mendampingi Bupati Yosef Lede. Namun, di balik jabatan terhormat yang kini ia emban, tersimpan sepotong kisah haru:

perjalanan diam-diam seorang anak daerah menuju panggung kepemimpinan, dimulai bukan dari tempat yang megah, melainkan dari trotoar jalanan kota.

Kisah ini diungkapkan oleh ayahnya, Ayub Titu Eki mantan Bupati Kupang, dalam sebuah wawancara eksklusif yang penuh kehangatan pada Minggu, 27 Juli 2025 Malam

“Tadi malam kami pulang dari Fatuleu Barat, sekitar pukul 23.00 WITA. Di dalam mobil dia cerita. Dulu waktu mau terima SK calon Wakil Bupati, dia bingung, hotel semua penuh, tidak tahu harus tidur di mana. Dia duduk saja sampai pagi, jalan kaki jauh ke Gerena. Karena terlalu mengantuk dan capek, dia sempat tertidur di pinggir jalan,” ujar Ayub dengan suara parau

Pengalaman itu bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan lukisan nyata tentang kesederhanaan, ketulusan dan tekad kuat dari seorang calon pemimpin. Dalam iklim politik yang sering disesaki oleh pencitraan dan glamor, perjalanan seperti ini langka sekaligus mulia.

Aurum memilih diam. Ia menyimpan kisah itu untuk dirinya sendiri, menjadikannya bagian dari pembentukan karakter dan fondasi kepemimpinan. Ia tidak menjual penderitaannya, tidak mempolitisasi kesulitannya. Barulah malam itu, dalam suasana tenang, ia menceritakan semuanya kepada sang ayah.

Sebagaimana pohon yang tumbuh kuat karena angin dan badai, demikian pula pemimpin sejati terbentuk dalam sunyi dan perjuangan yang tak dilihat orang.

Kini, Aurum berdiri sebagai pemimpin muda yang mewakili generasi baru Kabupaten Kupang—generasi yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga rendah hati, tabah dan menyatu dengan denyut nadi rakyatnya.

Jalan malam gelap membisu,
Langkah letih tak jadi beban,
Siapa sangka dari jalan itu,
Lahir pemimpin penuh harapan.

Tak ada hotel, tak ada teman,
Hanya semangat dan niat mulia,
Bukan jabatan yang jadi tujuan,
Tapi rakyat hidup sejahtera.

Kisah ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi menjadi inspirasi dan sosial bagi kaum muda, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur. Bahwa keterbatasan bukan penghalang dan kesunyian bukan kutukan. Justru dari ruang-ruang kecil yang sepi itulah, lahir pemimpin yang mengerti arti setiap langkah rakyatnya.

Dari pinggir jalan menuju kursi wakil bupati, perjalanan Aurum adalah simbol harapan. Sebuah narasi kehidupan yang menegaskan bahwa kesungguhan, kerja keras dan ketulusan, tak akan pernah sia-sia.

Semoga langkah-langkah pemimpin seperti Aurum menjadi jalan terang bagi Kabupaten Kupang—tanah yang membutuhkan pelayan, bukan penguasa; pemimpin yang tahu arti tidur di jalan, agar kelak bisa membangun rumah bagi yang belum punya tempat pulang.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.