KUPANG ,BBC — Dalam bentang geografis yang menyimpan paradoks antara keindahan dan kerentanan, antara harapan dan ancaman, pembangunan kesadaran kolektif terhadap risiko bencana menjelma sebagai sebuah keniscayaan etis, ekologis dan strategis.
Ia bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan panggilan peradaban—sebuah kesadaran bahwa manusia hidup dalam jalinan yang rapuh sekaligus sakral dengan alam.
Dalam horizon pemikiran tersebut, Aurum Obe Titu Eki menghadiri kegiatan Simulasi Kampung Siaga Bencana di Desa Benu, Kecamatan Takari, Rabu (22/4/2026).
Kehadiran ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menjadi bagian integral dari upaya sistematis dalam memperkuat kapasitas adaptif masyarakat menghadapi spektrum ancaman bencana yang kian kompleks, dinamis, dan multidimensional.
Kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari kolaborasi lintas sektor antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kupang, Forum Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kupang, serta CIS Timor.
Sinergi ini menegaskan satu prinsip fundamental dalam kajian kebencanaan modern: mitigasi bukanlah kerja teknokratis yang berdiri sendiri, melainkan proses sosial yang tumbuh dari partisipasi, kesadaran dan tanggung jawab kolektif yang berakar dalam kehidupan masyarakat.
Dalam sambutannya, Aurum Obe Titu Eki menegaskan bahwa masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek utama dalam setiap tahapan mitigasi.
Kesadaran risiko, menurutnya, tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi menjelma sebagai praksis hidup—yang ditempa melalui simulasi, diperkuat oleh latihan dan dimatangkan dalam pembelajaran kolektif yang berkesinambungan.
“Bencana seperti banjir di Takari mungkin sudah akrab bagi masyarakat. Namun, tanpa keterorganisasian yang baik, pengetahuan itu bisa kehilangan arah. Simulasi ini penting agar setiap langkah menjadi terstruktur saat bencana benar-benar terjadi,” ujarnya.
Secara akademis, pendekatan ini beririsan kuat dengan paradigma community-based disaster risk reduction (CBDRR), yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam identifikasi risiko, perencanaan evakuasi, hingga tata kelola pascabencana.
Dalam kerangka ini, desa tidak lagi diposisikan sebagai objek penderita, melainkan sebagai entitas adaptif—yang memiliki kapasitas untuk bertahan, bertransformasi dan bangkit dalam keberlanjutan.
Lebih lanjut, Aurum Obe Titu Eki menyoroti urgensi pemetaan risiko dan jalur evakuasi sebagai fondasi epistemik sekaligus operasional dalam sistem kesiapsiagaan.
Ia mengapresiasi keberadaan papan peta ancaman dan peta risiko di lokasi simulasi, seraya mendorong replikasi praktik tersebut secara sistematis di seluruh wilayah Kabupaten Kupang.
“Setiap daerah memiliki karakteristik bencana yang berbeda. Karena itu, pemetaan menjadi langkah awal yang tidak bisa ditawar. Dari sana, kita membangun sistem evakuasi, titik kumpul, hingga pola respons yang terintegrasi,” tegasnya.
Pendekatan berbasis data spasial yang dipadukan dengan partisipasi masyarakat ini menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan sekadar respons reaktif terhadap krisis, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun ketangguhan wilayah (resilience).
Dalam perspektif ini, Desa Benu menjelma sebagai laboratorium sosial—ruang dialektika antara pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah, antara pengalaman hidup dan kebijakan publik, yang bertemu dalam harmoni praksis.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, lembaga mitra, aparat keamanan, hingga masyarakat Desa Benu yang menjadi aktor utama dalam simulasi.
Kehadiran multipihak ini mempertegas bahwa bencana adalah isu lintas sektor yang menuntut orkestrasi kolaboratif dan solidaritas sosial yang tidak retak oleh perbedaan.
Namun, makna terdalam dari peristiwa ini tidak hanya terletak pada peta, prosedur, atau skenario yang disimulasikan.
Ia menemukan puncaknya pada tindakan—pada momen ketika Aurum Obe Titu Eki turun langsung dalam praktik simulasi, bahkan menggendong seorang anak kecil sebagai bagian dari skenario evakuasi.
Sebuah gestur sederhana, namun sarat makna: bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kebijakan, melainkan kehadiran; bukan sekadar arahan, melainkan keterlibatan yang nyata.
Di balik angka statistik, peta risiko, dan simulasi yang terstruktur, bencana menyimpan dimensi reflektif yang lebih dalam—ia adalah bahasa sunyi alam yang kerap terabaikan dalam hiruk-pikuk pembangunan. Ia tidak hadir semata untuk ditakuti, tetapi untuk dimaknai dengan kesadaran yang jernih.
Dalam setiap arus banjir yang meluap, dalam setiap retakan tanah yang merekah, tersimpan pesan tentang keseimbangan yang terganggu—tentang relasi manusia dan alam yang menuntut penataan ulang secara arif dan bertanggung jawab.
Bencana, dalam hakikatnya, adalah teks semesta yang mengajak manusia kembali membaca, memahami dan merawat kehidupan.
Ia bukan sekadar peristiwa, melainkan cermin eksistensial—yang memantulkan sejauh mana manusia mampu menjaga harmoni, mengelola risiko dan membangun kesadaran kolektif yang beradab.
Ia menguji bukan hanya daya tahan fisik, tetapi juga kedalaman etika sosial dan kejernihan kebijaksanaan.
Sebab pada akhirnya, bencana bukanlah takdir yang membelenggu manusia tanpa pilihan, melainkan panggilan kesadaran—agar manusia belajar dengan rendah hati, berbenah dengan sungguh-sungguh dan hidup selaras dengan hukum alam yang tidak pernah keliru.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
