BB – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus menggalakkan upaya pengurangan risiko bencana di seluruh Indonesia. Dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang diselenggarakan setiap tahun, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto menegaskan bahwa peringatan ini bukan hanya bersifat seremonial, melainkan langkah nyata untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Suharyanto menyatakan bahwa melalui kegiatan Peringatan Bulan PRB, kemampuan masyarakat dalam memahami dan merespons ancaman bencana dapat semakin terpelihara. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat Indonesia bahwa negara ini rentan terhadap berbagai jenis bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga kebakaran hutan.
“Intinya, masyarakat di seluruh Indonesia harus terus meningkat kesadarannya, karena negara kita memiliki segala jenis bencana,” ujar Suharyanto, Kamis (10/10).
Suharyanto mengungkapkan bahwa meskipun jumlah kejadian bencana bersifat fluktuatif, dampak bencana di Indonesia dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren penurunan.
Jumlah korban meninggal dunia, luka-luka, serta kerusakan rumah akibat bencana semakin berkurang, berkat berbagai upaya pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.
Salah satu contoh keberhasilan tersebut adalah penurunan signifikan dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BNPB mencatat, luas lahan terbakar pada 2023 hanya mencapai 600 ribu hektar, jauh lebih rendah dibandingkan 1,6 juta hektar pada 2019 dan 2 juta hektar pada 2015.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari antisipasi yang lebih baik terhadap faktor cuaca seperti El Nino, yang biasanya memperburuk kondisi kebakaran lahan.
Meski demikian, Suharyanto mengingatkan bahwa keberhasilan dalam menangani bencana bukanlah alasan untuk berpuas diri. “Kita jangan hanya kuat di tanggap darurat, tetapi kita harus kuat di pencegahannya,” tegasnya
Sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Bulan PRB, BNPB juga memberikan bantuan darurat kepada Pemerintah Aceh yang tengah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi basah.
Bantuan tersebut berupa dana siap pakai (DSP) senilai Rp300 juta, serta berbagai perlengkapan darurat seperti tenda pengungsi, mobil dapur lapangan, perahu karet, dan genset.
Kepala BNPB memberikan bantuan ini secara simbolis kepada Pj. Gubernur Aceh di Pendopo Gubernur pada Rabu (9/10). Selain bantuan untuk pemerintah provinsi, BNPB juga menyalurkan dukungan operasional kepada Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Besar dengan nilai masing-masing Rp200 juta, termasuk logistik seperti sembako, pakaian, dan perlengkapan darurat lainnya.
Pengurangan risiko bencana adalah fokus utama BNPB dalam menjaga keselamatan masyarakat Indonesia. Melalui berbagai program edukasi, simulasi, dan pelatihan, BNPB terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dampak dari bencana alam yang tidak dapat dihindari dapat diminimalisir, dan masyarakat Indonesia dapat hidup lebih aman dan sejahtera.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
