Kupang, BBC – Alam Oelbiteno yang dikenal dengan suhu dingin dan panas bergantian, serta kabut yang kerap menyelimuti siang hari, menjadi ruang inspirasi bagi masyarakat setempat.

Kesuburan tanahnya yang ramah bagi kopi dan strawberry telah menjadikan wilayah ini simbol pertanian rakyat yang bernilai ekonomi sekaligus bernuansa budaya.

Pada momentum ini, Bupati Kupang, Yosef Lede Senin (9/9), membuka Pelatihan Pangan Lokal Berbasis B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman) JASEKA (Jajanan Sehat Berkualitas), serta pembagian PMT (Pemberian Makanan Tambahan) untuk anak stunting, gizi kurang dan ibu hamil KEK.

Dalam kegiatan tersebut, hadir pula tokoh masyarakat, perangkat desa dan orang tua murid dari SD GMIT Oelbiteno dan SD Negeri Pasi.

Kehadiran mereka mencerminkan keterlibatan kolektif masyarakat dalam menguatkan program pangan lokal yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memiliki dimensi sosial, kultural dan akademis.

Dalam sambutannya, Yosef Lede menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari persiapan daerah dalam menyongsong program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengingatkan bahwa Kabupaten Kupang telah mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp500 miliar dan dana tersebut harus dipastikan berputar di tingkat lokal, bukan mengalir keluar daerah. Dengan demikian, masyarakat Kupang dapat menjadi subjek utama pembangunan pangan.

Menurut Yosef Lede, kopi Oelbiteno dan strawberry bukan hanya komoditas. Lebih dari itu, keduanya adalah sajak kedaulatan pangan: simbol kemampuan rakyat berdiri tegak di atas tanahnya sendiri, berdaulat atas hasil bumi, serta mampu membangun kesejahteraan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pihak luar.

Ia menekankan bahwa pangan lokal adalah filsafat hidup. Menanam bukan sekadar aktivitas agraris, melainkan pendidikan praktis tentang kedaulatan, keberlanjutan dan ketahanan keluarga.

Dari pekarangan sederhana, kata Yosef Lede, lahir ketahanan ekonomi rumah tangga; dari benih yang tumbuh, lahir pula generasi yang sehat dan berdaya.

“Menanam adalah doa, panen adalah jawaban. Pangan lokal bukan hanya soal kebutuhan jasmani, tetapi juga jawaban spiritual atas harapan keluarga yang sejahtera,” ujar Yosef Lede dengan nada penuh refleksi.

Kegiatan ini juga diwarnai dengan pasar murah, panen strawberry, serta minum kopi bersama masyarakat. Kehadiran “Kopi Oelbiteno”, hasil produksi petani setempat, memperlihatkan nilai tambah ekonomi yang dapat dicapai melalui pengelolaan pangan lokal secara kreatif.

Nuansa kegiatan ini menegaskan bahwa Oelbiteno bukan sekadar desa, melainkan ruang belajar kolektif tentang kemandirian pangan.

Turut hadir Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Yoel Laitabun; Wakil Ketua Darma Wanita Pembangunan, Anthoneta Rahakbauw–Mapusa; Camat Fatuleu Tengah; Kepala Desa Oelbiteno; serta jajaran pengurus Darma Wanita Pembangunan. Partisipasi lintas sektor ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam menyukseskan program pangan lokal berbasis masyarakat.

Dalam pandangan ini, upaya Yosef Lede merepresentasikan paradigma pembangunan yang integratif: memadukan aspek kesehatan, ekonomi, budaya dan pendidikan. Dengan demikian, pangan lokal bukan hanya persoalan konsumsi, melainkan bagian dari strategi kedaulatan nasional yang berakar dari desa.

Di akhir kegiatan, Yosef Lede kembali mengingatkan visi “Kabupaten Kupang Emas”. Visi ini tidak dapat diraih hanya dengan program teknis, tetapi dengan kerja kolektif yang menyatukan pemerintah, masyarakat, dan kaum muda.

“Kopi dan strawberry Oelbiteno adalah puisi kehidupan. Ia mengajarkan bahwa kedaulatan pangan bukan retorika, melainkan kenyataan yang lahir dari kerja keras rakyat,” pungkasnya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.