KUPANG, BBC — Lobi lantai dua Kantor Bupati Kupang, Oelamasi, Kamis (20/11), pagi tidak sekadar tiba—ia turun perlahan seperti helai tenun yang jatuh dari tangan leluhur, membawa keheningan yang nyaris dapat disentuh.

Udara memantulkan aroma nostalgia, seakan mengajak siapa pun yang hadir untuk kembali mengingat jejak nenek moyang yang pernah bernyanyi di ladang-ladang kering Pulau Timor.

Cahaya matahari memasuki ruangan dalam garis-garis tipis, menari di antara langkah peserta, sementara getaran nada—masih diam, namun sudah penuh takdir—mengisi ruang dengan sebuah kesedihan yang lembut, sebagaimana kain tua yang disimpan terlalu lama, tetapi tetap setia menjaga cerita.

Dalam suasana yang demikian lirih namun khidmat, Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki memulai prosesi pembukaan Lomba Menyanyi Solo DWP Idol dan Peragaan Busana Adat NTT, dua panggung seni yang menjadi bagian dari perayaan HUT ke-26 Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Kupang.

Kehadirannya tidak sekadar protokoler; ia datang bagai penjaga obor budaya, memastikan syair-syair lama tidak hilang ditelan modernitas yang bergerak terlalu cepat.

Sambutan Aurum Titu Eki mengalir pelan, seperti sungai kecil yang menuruni lereng Fatuleu, mengundang siapa pun yang mendengarnya untuk berhenti sejenak dan merenungkan asal-usul.

Kata-katanya dirangkai rapi, akademis namun tetap berjiwa, memadukan analisis pembangunan dengan nada elegi budaya yang mulai memudar.

Ia menyampaikan apresiasi Pemerintah Kabupaten Kupang terhadap kreativitas serta inovasi DWP—sebuah organisasi yang dianggapnya bukan hanya pendamping, tetapi penopang struktur sosial yang memelihara ketahanan keluarga ASN dan keberlanjutan budaya lokal.

“Perayaan HUT ke-26 DWP bukan sekadar agenda tahunan,” tuturnya, “tetapi momentum untuk meneguhkan DWP sebagai mitra strategis pemerintah, penjaga keluarga, penggerak potensi perempuan dan pemelihara jati diri masyarakat Kabupaten Kupang.”

Dalam tutur itu tersimpan getir yang tidak diucapkan: bahwa budaya, jika tidak dirawat, dapat pudar; dan perempuan yang memegang peran penting sebagai penjaga nilai, kerap tak disadari sebagai tiang penyangga peradaban.

Lomba Menyanyi Solo DWP Idol bukan sekadar perlombaan vokal. Ia menjelma menjadi altar ekspresi, tempat perempuan-perempuan Kabupaten Kupang menyampaikan suara yang selama ini mungkin terbungkam oleh rutinitas hidup.

Setiap nada yang meluncur dari bibir peserta seakan membawa kisah: kisah tanah kering, kisah perjuangan ibu, kisah malam-malam panjang yang pernah mereka tempuh dengan tabah.

Ketika panggung berpindah pada Peragaan Busana Adat NTT, suasana berubah menjadi semacam elegi budaya. Para pimpinan OPD dan para suami anggota DWP melangkah perlahan, seolah setiap langkah adalah penghormatan kepada para penenun yang pernah duduk berjam-jam di samping api, memintal benang menjadi identitas.

Setiap helai tenun adalah baris motif
Setiap motif adalah bait sejarah.
Setiap warna adalah air mata yang disimpan, tetapi diwariskan.

Aurum Titu Eki menegaskan kembali bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan. Lelaki pun harus turut serta menyandang tenun, sebab warisan tidak akan bertahan jika hanya dipikul separuh bangsa.

IMG 20251120 WA0063

Maria Babanong, Ketua DWP Kabupaten Kupang, berbicara dengan suara yang lembut namun tegas. Ia mengingatkan bahwa tema HUT tahun ini bukan semboyan semata, melainkan seruan spiritual bagi para perempuan—untuk menyadari kembali peran strategis yang Tuhan titipkan kepada mereka.

Ucapannya bernuansa doa, tetapi juga analitis: ia menekankan pentingnya sinergi, apresiasi terhadap kepemimpinan daerah, dan kesadaran bahwa keberhasilan program pemerintah juga bertumpu pada kokohnya keluarga ASN.

Ia pun memberikan penghargaan kepada para suami pimpinan OPD yang turun langsung memperagakan busana adat. Partisipasi itu memecah stereotip dan dalam kacamata akademis—menjadi simbol penting perubahan struktur peran gender dalam masyarakat NTT modern.

Kegiatan ini diperkaya oleh kehadiran juri-juri profesional: Pendeta Emr. Hengky Abineno, Relin Yosi Huka, Sari Dewi Sibulo, Andre Seran, dan Harlini Ludji. Mereka tidak hanya menilai aspek teknik, tetapi membaca makna yang lebih dalam—bagaimana seni menjadi wahana pembentukan identitas dan modal sosial masyarakat.

Di tengah tepuk tangan yang mengalun lembut—tak meledak-ledak, namun hangat dan penuh penghargaan—terasa ada kesedihan samar: kesadaran bahwa budaya hanya akan bertahan jika disuarakan, ditenun, dan diperjuangkan terus-menerus.

Demikianlah, rangkaian kegiatan ini akhirnya menjadi narasi baru bagi Kabupaten Kupang. Narasi yang berpijak pada pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan dan revitalisasi seni—namun tetap bergerak dengan hati, sebagaimana syair yang ditulis dari kesunyian dan harapan.

Bahwa ketika suara menjadi nyanyian dan tenun menjadi doa yang dijahitkan kembali, budaya akan terus menyala.

Bahwa ketika Aurum Obe Titu Eki membuka panggung, nada persatuan itu akhirnya menemukan rumahnya.

Dan bahwa di tengah perayaan ini, Kabupaten Kupang sedang menulis dirinya—dengan tinta yang berasal dari air mata, kebanggaan dan cinta kepada tanahnya sendiri.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.