Kupang, BBC — Pada Jumat sore, 09 Januari 2026, Bendelina Malafu membuka hati kepada media. Gadis asal Desa Sillu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang ini menuturkan kisah hidupnya yang kini dijalani dalam sunyi, kesabaran dan doa yang tak pernah putus.
Dengan suara lembut namun bergetar, Bendelina menceritakan kehamilannya yang kini telah memasuki usia lima bulan, hasil cintanya kepada pacar yang dulu setia, Alvin Kase.
“Cinta kadang datang seperti hujan dan kadang pergi tanpa pamit, meninggalkan jejak yang hanya bisa dikenang hati.”
Awalnya, perhatian Alvin terasa begitu hangat. Hampir setiap hari, bahkan setiap waktu, Alvin selalu menghubungi Bendelina melalui WhatsApp. Ia menanyakan kondisi Bendelina, kesehatannya, hingga perkembangan janin yang dikandungnya.
“Dia selalu tanya keadaan saya, bahkan tanya ade mea,” tutur Bendelina lirih
Namun, perhatian itu perlahan menghilang. Tanpa alasan, tanpa pesan terakhir yang menghibur, komunikasi Alvin berhenti.
Pesan terakhir tercatat pada 06 Desember 2025 dan sejak saat itu, tidak ada kabar lagi. Sosok yang dulu penuh cinta seakan lenyap ditelan sunyi.
“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tetapi ditinggalkan tanpa alasan, meninggalkan hati yang bertanya-tanya.”
Meski pilu, Bendelina memilih untuk tidak larut dalam amarah. Ia menegaskan, fokusnya kini adalah menjaga janin dalam kandungannya.
Baginya, ketenangan seorang ibu adalah rumah pertama bagi anak yang belum lahir ke dunia.
“Sementara saya tenang-tenang dan pelihara anaknya dalam kandungan,” ucap Bendelina, menahan rasa yang tak mudah diungkap.
Dalam sunyinya, Bendelina percaya janin yang ia kandung merasakan kesedihan yang sama.
“Anak dalam kandungan pasti menangis dalam diam, karena ayahnya menghilang,” ujarnya pelan.
Kalimat itu menjadi cermin kesedihan mendalam: meski belum lahir, bayi itu sudah merasakan kehilangan.
“Seorang anak mungkin belum bisa bicara, tetapi ia mampu merasakan siapa yang hadir dan siapa yang pergi.”
Hingga kini, tidak ada kabar lanjutan dari Alvin Kase. Tidak ada jawaban, tidak ada kepastian dan tidak ada tanggung jawab. Bendelina hanya bisa menunggu, sambil memeluk harapan bahwa suatu hari, cinta dan keadilan akan menemukan jalannya.
Kisah Bendelina menjadi potret ketegaran seorang perempuan, ibu yang memilih bertahan demi kehidupan kecil yang tumbuh di rahimnya, meski harus menghadapi dunia sendirian.
“Ibu adalah doa yang berjalan; hatinya mungkin hancur, tapi cintanya tetap utuh, seperti matahari yang tak pernah menolak fajar.”
Di tengah kesepian dan kehilangan, Bendelina terus melangkah. Ia percaya, anak yang lahir dari air mata dan doa akan tumbuh menjadi pribadi kuat. Karena cinta seorang ibu tak pernah menuntut balasan, hanya keberanian untuk terus hidup.
“Cinta yang pergi bukanlah akhir; kadang ia mengajarkan kesabaran, dan kadang ia menumbuhkan kekuatan yang tak terhingga.”
Bendelina memilih menulis ulang kisahnya dengan kesabaran, menanti dengan harapan, dan menanam cinta di dalam hati, meski cinta yang seharusnya hadir kini hanya tinggal kenangan.
“Dalam setiap kehilangan, ada pelajaran. Dalam setiap menanti, ada kekuatan. Dan dalam setiap cinta yang diam, ada keabadian.”
Setiap detak janin di rahim Bendelina adalah pengingat akan cinta yang tetap hidup. Cinta itu bukan hanya milik masa lalu, tapi juga janji masa depan. Ia menanamkan doa, harapan dan kasih sayang, agar anaknya kelak tumbuh dalam cinta, meski ayah biologisnya tak hadir.
“Cinta seorang ibu adalah puisi yang ditulis dalam diam, dengan tinta air mata dan doa yang tak pernah berhenti.”
Bendelina percaya, menanti bukan tanda kelemahan, tetapi bukti keberanian seorang ibu yang memahami bahwa cinta sejati terkadang lahir dari kesunyian, kesabaran dan keteguhan hati.
“Mereka yang pergi akan selalu menjadi kenangan, tapi mereka yang bertahan akan menjadi kekuatan bagi yang akan lahir.”
Kuingin memeluk gunung, namun apalah daya tangan tak sampai.
Pepatah lama berkata: “Habis manis sepah dibuang.”
Namun Bendelina tetap tersenyum. Meski ditinggal cinta, ia tahu kasih sayang yang ia tanam akan tetap bersemi, menumbuhkan kekuatan baru bagi anak yang tengah ia kandung.
“Cinta yang abadi bukan selalu tentang hadir, tetapi tentang menunggu, merawat dan percaya pada keajaiban yang akan datang.”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
