BB – Proyek pembangunan tangki septik individual yang menelan anggaran lebih dari Rp 5 miliar di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan tajam,Jumat 15/11

Meski telah dinyatakan selesai dalam laporan pemerintah, kenyataannya proyek tersebut mangkrak, meninggalkan warga dalam kekecewaan besar.  

Proyek yang dilaksanakan pada tahun 2021 melalui Dinas PUPR Kabupaten Malaka ini bertujuan meningkatkan kualitas sanitasi di beberapa desa, termasuk Desa Wederok, Raimataus, dan Kereana.

Tiga kontraktor, yakni CV Sinar Geometry, CV Joan Abadi, dan CV Anugerah Mychael, ditunjuk untuk menyelesaikan proyek ini dengan total 608 unit tangki septik. 

Namun, hingga kini, warga mengeluhkan bahwa fasilitas tersebut tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.  

Seorang warga Desa Kereana mengungkapkan, “Tangki septik itu kami gunakan untuk tempat pakan ternak. Ada juga yang menjadikannya tempat penampungan air atau bahkan dibiarkan tak terpakai.”  

Ironisnya, alih-alih mendapat solusi sanitasi, warga harus kembali menggali lubang jamban secara mandiri dengan biaya tambahan hingga Rp 1 juta. Hal ini memperparah kondisi ekonomi masyarakat yang sebelumnya sudah terbebani.  

Anggaran sebesar Rp 5.071.472.873 yang dialokasikan untuk proyek ini seharusnya membawa dampak positif bagi masyarakat. Namun, laporan realisasi pekerjaan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. 

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Malaka tahun 2022 menyatakan bahwa proyek telah selesai dan diserahkan kepada masyarakat, namun warga tidak merasakan manfaatnya.  

Petrus Kabosu, SH, seorang advokat lokal, menduga ada pelanggaran serius dalam proyek ini

“Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Pihak yang bertanggung jawab harus diaudit dan kasus ini harus diserahkan ke Aparat Penegak Hukum (APH),”tegasnya.  

Ia juga meminta pemerintah daerah untuk segera bertindak. “Bupati harus merekomendasikan penyelidikan kepada APH agar pihak yang terlibat dalam proyek bermasalah ini diproses sesuai hukum yang berlaku,”* lanjutnya.  

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor, terutama CV Anugerah Mychael, belum memberikan tanggapan terkait dugaan penyimpangan ini.

Kasus ini memunculkan pertanyaan besar tentang akuntabilitas dan transparansi penggunaan dana publik.  

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah ini, baik dengan memperbaiki fasilitas yang sudah dibangun maupun memastikan tidak ada lagi proyek serupa yang gagal di masa depan.  

Proyek pembangunan tangki septik individual di Malaka yang mangkrak ini mencerminkan kurangnya pengawasan dalam pelaksanaan proyek pemerintah.

Dengan anggaran besar yang dialokasikan, masyarakat berhak mendapatkan fasilitas sanitasi yang layak dan berfungsi.  

Kasus ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak agar tidak ada lagi dana publik yang “menguap” tanpa manfaat nyata bagi masyarakat.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.