Kupang, BBC — Di ruang pelayanan RSUD Naibonat, sebuah kisah kemanusiaan mengalir dalam hening penuh air mata.Sebanyak 400 penderita katarak dari daratan Timor datang dengan tatapan yang hampir padam.

Mereka adalah para lansia, orang tua, dan masyarakat kecil dari pelosok Timor, Flores, Rote, hingga Sabu yang selama ini hidup dalam kabut penglihatan.

Di balik langkah mereka yang rapuh, terselip kerinduan untuk sekali lagi menatap wajah anak-cucu, menengok keindahan alam dan merasakan kembali arti kemandirian.

Dalam suasana yang sarat kesedihan, Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis digelar, menjadi momentum solidaritas yang meretas batas institusi—pemerintah, lembaga keagamaan, media, hingga organisasi profesi.
L
“Mata adalah jendela kehidupan,” ujar Bupati Kupang, Yosef Lede dengan suara yang bergetar namun membawa harapan. Ia menegaskan, ketika jendela itu ditutup katarak, maka dunia seseorang berubah drastis—aktivitas sederhana menjadi beban, produktivitas lenyap dan martabat perlahan terkikis.

NTT, katanya, masih menyimpan ribuan cerita pilu dari mereka yang hidup dalam kabut katarak. Jarak rumah sakit, biaya operasi dan keterbatasan fasilitas membuat banyak orang hanya bisa menyerah dalam gelap.

Karena itu, operasi katarak gratis ini bukan sekadar layanan kesehatan, tetapi jawaban atas ratapan panjang yang nyaris tak terdengar.

Ia meneguhkan pesan yang sarat makna bahwa kesehatan adalah hak universal, bukan privilese yang dimiliki segelintir orang.

Program ini lahir dari sinergi Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih SCTV–Indosiar, Kongregasi Puteri Reinha Rosari, Yayasan Karya Alpha Omega, Sentra Efata Kupang dan PERDAMI.

Kolaborasi lintas batas ini bukan hanya menyembuhkan mata, melainkan menghidupkan kembali martabat manusia yang hampir hilang dalam gelap.

Imam Sudjarwo, Ketua YPP SCTV–Indosiar, menyebutnya sebagai program kemanusiaan unggulan yang menyelamatkan manusia dari penderitaan sunyi.

Sementara Suster Wilhelmin, pencetus kegiatan, dengan suara lirih mengisahkan bagaimana perjumpaannya dengan banyak lansia penderita katarak menjadi panggilan iman: “Tuhan menuntun kami agar Naibonat menjadi panggung kecil bagi cahaya harapan.”

Di sudut ruang, Kornelis Selan seorang lansia dari TTS, tak kuasa menahan air mata.

“Dunia saya lama tenggelam dalam kabut. Saya tak lagi jelas melihat wajah anak saya. Kini, dengan operasi ini, saya seperti diberi hidup baru,” ucapnya lirih.

Kisah Kornelis hanyalah satu dari ratusan cerita senyap, yang kini bersuara kembali. Air mata mereka bukan lagi sekadar ratapan, melainkan ungkapan syukur atas harapan yang pulih.

Bakti sosial operasi katarak di Naibonat bukanlah sekadar tindakan medis. Ia adalah gerakan kemanusiaan,moral dan spiritual, yang meneguhkan keadilan sosial sebagai dasar pembangunan kesehatan.

Inisiatif ini menghadirkan praksis nyata dari equity in health, di mana akses kesehatan harus merata, tanpa diskriminasi kelas sosial maupun geografi.

Dari Kabupaten Kupang, sebuah pesan luhur terpancar: cahaya sejati tidak hanya kembali ke mata yang pulih, melainkan juga ke hati yang rela berbagi. Sesungguhnya, ketika seorang manusia kembali menatap terang, yang lahir bukan hanya penglihatan, tetapi juga martabat, produktivitas dan optimisme hidup yang sempat terkubur dalam gelap.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.