KUPANG, BBC – Ada penantian yang tidak dapat diukur hanya dengan hitungan waktu. Ia diukur melalui kesabaran masyarakat yang terus bertahan menghadapi keterbatasan, melalui langkah-langkah kaki yang berulang kali terhenti di tepian sungai, serta melalui doa-doa yang dipanjatkan agar suatu hari negara benar-benar hadir menjawab kebutuhan paling mendasar warganya.
Harapan itulah yang kini menemukan bentuknya. Setelah bertahun-tahun menjadi simbol keterisolasian dan hambatan mobilitas masyarakat, Kali Taimetan di Desa Kiuoni, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, akhirnya mulai dibangun melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) II Kabupaten Kupang Tahun Anggaran 2026.
Pembangunan tersebut bukan sekadar pekerjaan konstruksi yang menghubungkan dua tepian sungai. Lebih dari itu, pembangunan ini merepresentasikan manifestasi tanggung jawab konstitusional pemerintah dalam menjamin pemerataan pembangunan, memperkuat konektivitas wilayah, sekaligus mewujudkan keadilan pembangunan bagi masyarakat yang selama ini hidup di wilayah dengan tantangan geografis yang cukup berat.
Selama bertahun-tahun, Kali Taimetan menjadi titik kritis yang menentukan ritme kehidupan masyarakat. Pada musim kemarau, sungai itu masih dapat dilintasi dengan penuh kehati-hatian. Namun setiap kali hujan mengguyur kawasan Fatuleu, debit air meningkat drastis, mengubah jalur penghubung tersebut menjadi penghalang yang memisahkan masyarakat dari aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga urusan sosial kemasyarakatan.
Bagi masyarakat Desa Kiuoni dan sejumlah desa lain di Kecamatan Fatuleu, keberadaan Kali Taimetan bukan sekadar bentang alam. Sungai itu telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat dalam memperjuangkan hak atas akses transportasi yang aman, layak dan berkelanjutan. Di balik derasnya arus sungai, tersimpan kisah tentang anak-anak yang tertunda menuju sekolah, petani yang harus menahan hasil panennya, keluarga yang cemas ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, hingga roda perekonomian desa yang melambat akibat terputusnya akses distribusi.
Kepala Desa Kiuoni, Dedi Suan, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas dimulainya pembangunan tersebut. Baginya, realisasi pembangunan Kali Taimetan merupakan jawaban atas harapan masyarakat yang telah diperjuangkan dalam kurun waktu yang tidak singkat.
“Atas nama Pemerintah Desa Kiuoni dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Pemerintah Kabupaten Kupang yang telah menunjukkan keberpihakan terhadap kebutuhan riil masyarakat. Pembangunan Kali Taimetan melalui APBD II Tahun 2026 bukan hanya menjawab kebutuhan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan kembali optimisme masyarakat bahwa setiap aspirasi yang diperjuangkan dengan kesabaran pada akhirnya akan memperoleh perhatian pemerintah,” ujarnya kepada media ini, Selasa (14/7/2026).
Menurut Dedi, pembangunan tersebut menjadi bukti bahwa tata kelola pemerintahan yang responsif akan selalu menempatkan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama kebijakan publik. Dalam perspektif pembangunan daerah, infrastruktur bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen strategis untuk menciptakan transformasi sosial, memperluas kesempatan ekonomi, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Ia menuturkan bahwa selama ini masyarakat hidup berdampingan dengan ketidakpastian setiap kali musim penghujan tiba. Ketika arus sungai meninggi, berbagai aktivitas masyarakat praktis terhenti.
“Kami mengalami sendiri bagaimana derasnya arus Kali Taimetan menghambat kehidupan masyarakat. Anak-anak tidak dapat bersekolah dengan aman, petani kesulitan membawa hasil panen ke pasar, aktivitas perdagangan melambat, bahkan pelayanan kesehatan pun sering terkendala. Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar kesulitan transportasi, tetapi persoalan kemanusiaan yang menyangkut hak masyarakat memperoleh pelayanan dan kesempatan yang sama,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dedi menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur harus dipahami sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Jalan, jembatan, maupun akses penyeberangan tidak hanya memperpendek jarak geografis, tetapi juga mempersempit kesenjangan sosial dan ekonomi antarwilayah.
“Kami meyakini bahwa setiap pembangunan infrastruktur selalu membawa efek berganda (multiplier effect). Ketika akses terbuka, biaya distribusi menurun, aktivitas ekonomi meningkat, hasil pertanian lebih mudah dipasarkan, investasi menjadi lebih terbuka, pelayanan publik semakin cepat dan kualitas hidup masyarakat pun meningkat. Karena itu, pembangunan Kali Taimetan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa perhatian Pemerintah Kabupaten Kupang mencerminkan praktik pembangunan yang berorientasi pada prinsip pemerataan dan keadilan sosial.
“Masyarakat merasa dihargai karena pemerintah tidak hanya hadir melalui kebijakan administratif, tetapi hadir melalui tindakan nyata yang dapat dirasakan secara langsung. Inilah esensi pelayanan publik yang sesungguhnya, yakni menghadirkan solusi terhadap kebutuhan masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah dengan tantangan pembangunan yang kompleks,” katanya.
Dedi juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan pembangunan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat semangat gotong royong dan rasa memiliki terhadap aset publik.
“Infrastruktur yang dibangun menggunakan anggaran negara merupakan milik bersama. Oleh sebab itu, menjaga, merawat, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab merupakan kewajiban moral seluruh masyarakat. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan konstruksi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat mampu menjaga manfaatnya agar dapat dinikmati oleh generasi berikutnya,” tuturnya.
Di akhir penyampaiannya, Dedi berharap pembangunan Kali Taimetan menjadi titik awal percepatan pembangunan infrastruktur lainnya di Kecamatan Fatuleu sehingga konektivitas antarwilayah semakin kuat dan pembangunan desa berlangsung secara inklusif.
“Kami optimistis pembangunan ini akan menjadi penggerak lahirnya berbagai peluang baru bagi masyarakat. Ketika akses terbuka, harapan ikut terbuka. Ketika konektivitas terbangun, kesejahteraan memiliki ruang untuk tumbuh. Semoga pembangunan ini selesai tepat waktu, berkualitas tinggi dan menjadi warisan pembangunan yang memberi manfaat bagi anak cucu kami di masa depan,” tutupnya.
Pembangunan Kali Taimetan pada akhirnya tidak hanya menghubungkan dua sisi sungai. Ia menghubungkan harapan dengan kenyataan, perjuangan dengan jawaban, serta menghadirkan keyakinan bahwa pembangunan yang berkeadilan selalu dimulai dari keberanian pemerintah mendengar suara masyarakat. Di atas fondasi infrastruktur yang kini mulai dibangun, masyarakat Fatuleu menanam harapan baru bahwa kemajuan tidak lagi menjadi impian yang jauh, melainkan masa depan yang perlahan sedang diwujudkan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
