KUPANG, BBC — Sebuah video berdurasi sekitar 40 detik yang memperlihatkan dugaan daging berulat dalam paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu gelombang kemarahan publik dan sorotan serius terhadap standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program gizi anak di SD Negeri Nekon, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.

Video yang beredar luas di berbagai platform media sosial itu memperlihatkan seorang warga menunjukkan potongan daging dalam paket makanan yang diduga mengandung belatung.

Dalam rekaman tersebut, terdengar suara perekam menyampaikan kekecewaan dan keprihatinan karena makanan itu dikonsumsi oleh anak-anak sekolah.

“Ini lihat ulat semua di daging. Anak-anak makan ini,” ujar suara dalam video yang kini viral.

Narasi dalam video juga menyebutkan bahwa paket makanan tersebut tidak hanya didistribusikan ke sekolah, tetapi juga ke Posyandu Oebaha di Desa Tornaku.

Munculnya video tersebut segera memicu reaksi keras masyarakat. Publik mempertanyakan integritas sistem pengawasan, standar higienitas, serta mekanisme kontrol mutu dalam rantai produksi dan distribusi program MBG.

Dalam perspektif tata kelola kebijakan publik, program gizi anak merupakan intervensi strategis yang menuntut standar keamanan pangan yang ketat, transparansi, serta akuntabilitas tinggi.

Karena itu, dugaan kontaminasi makanan—jika terbukti—dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip perlindungan kesehatan peserta didik.

Warga mendesak pemerintah dan penyelenggara program untuk segera melakukan audit menyeluruh, investigasi independen, serta penguatan sistem pengawasan guna memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat pernyataan resmi dari pihak sekolah maupun penyelenggara program MBG terkait kebenaran isi video tersebut.

Tim media masih melakukan upaya konfirmasi untuk memperoleh penjelasan yang komprehensif dan objektif.

Ketiadaan klarifikasi resmi justru memperbesar kekhawatiran publik serta memperkuat tuntutan transparansi dalam pengelolaan program.

Para pemerhati kesehatan dan kebijakan sosial menilai, polemik ini harus dijadikan momentum evaluasi sistemik terhadap tata kelola program MBG, mulai dari proses pengadaan bahan pangan, standar produksi, sistem penyimpanan, hingga pengawasan distribusi di lapangan.

Dalam kerangka good governance, keamanan pangan bukan sekadar aspek teknis, melainkan kewajiban moral dan konstitusional negara dalam melindungi generasi muda.

Ke depan, penguatan sistem kontrol mutu, penerapan standar sanitasi yang ketat, serta transparansi publik dinilai menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program MBG benar-benar menghadirkan manfaat optimal bagi kesehatan dan masa depan anak-anak.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.