Surabaya,BBC — Di tengah denyut nadi kota Surabaya yang riuh dan sibuk, di antara suara mesin kendaraan dan langkah manusia yang bergegas mengejar waktu, tampak satu sosok berjalan perlahan.

Bukan pejabat yang sedang berarak dalam kemegahan, bukan pula simbol kekuasaan yang dikelilingi protokol. Ia adalah Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki yang memilih berjalan kaki di atas trotoar, seolah ingin mengingatkan dunia bahwa kebesaran seorang pemimpin tidak diukur dari jarak yang ditempuh kendaraan, melainkan dari kedekatan langkahnya dengan tanah dan rakyat.

Usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Sinkronisasi Tata Ruang Pertahanan di Hotel Shangri-La Surabaya, Rabu (12/11/2025), Aurum tampak sederhana: kaos bergaris hitam putih, celana panjang hitam, langkah tenang dan tatapan yang hangat.

Di kiri dan kanannya berjalan dua pegawai Humas Prokopim serta ajudan setia, mengiringi pemimpin muda yang sedang menapaki refleksi hidupnya sendiri.

Dalam sebuah video berdurasi 35 menit yang direkam oleh salah satu pegawai, terdengar suara lirih yang memecah suasana sore itu:

“Bapa Ayub memang hobi jalan kaki.”
Kalimat itu sederhana, namun mengandung narasi panjang tentang warisan nilai yang ucapkan salah seorang pegawai.

Ayub yang dimaksud adalah Ayub Titu Eki, sang ayah — mantan Bupati Kupang dua periode, pendidik dan pemimpin visioner yang menanamkan nilai kemanusiaan di atas segala bentuk kuasa.

Saat itu, Aurum tersenyum lembut. Suaranya pelan namun penuh makna.
“Beliau memilih jalan kaki selagi bisa jalan. Saya hanya meneladani pesan ayah. Jalan bukan sekadar jalan. Sambil berjalan, kita belajar melihat orang-orang di sekitar. Ada yang susah, ada yang berjuang. Sebisanya, kita berbagi berkat.”

Dalam kalimat itu tersirat pelajaran mendalam tentang kepemimpinan berbasis empati. Di tengah birokrasi yang kerap memisahkan pemimpin dari rakyatnya, Aurum menghadirkan kembali makna kepemimpinan yang membumi, kepemimpinan yang berangkat dari kesadaran eksistensial bahwa setiap langkah seorang pemimpin adalah bentuk komunikasi sosial — bahasa tanpa kata yang diterjemahkan rakyat melalui tindakan nyata.

Dalam sudut pandang akademik, tindakan sederhana Aurum dapat dimaknai melalui konsep ethical leadership dan embodied empathy — bahwa tubuh pemimpin, dengan segala tindakannya, adalah representasi moral dari nilai yang ia anut.

Ketika seorang pemimpin memilih berjalan kaki, ia sedang melakukan simbolisasi kesetaraan: meniadakan jarak antara dirinya dan masyarakat, sekaligus meneguhkan diri sebagai bagian dari mereka.

Dalam pandangan filsafat sosial, langkah kaki di trotoar bukan sekadar gerak fisik, tetapi juga gerak spiritual — perjalanan dari ego menuju etika, dari jabatan menuju pelayanan. Ia adalah dialog sunyi antara kekuasaan dan kemanusiaan, antara pangkat dan pengabdian.

Kesederhanaan yang dipraktikkan Aurum bukanlah bentuk pencitraan, melainkan ekspresi kejujuran eksistensial. Dalam setiap langkahnya, ada kesadaran bahwa jabatan hanyalah mandat sementara, sedangkan keteladanan adalah warisan abadi.

Surabaya sore itu mungkin tak menyadari makna dari langkah-langkah kecil tersebut. Namun bagi mereka yang memahami bahasa nilai, Aurum sedang menulis puisi kepemimpinan dengan kakinya sendiri — puisi tentang kesetiaan, kesederhanaan dan tanggung jawab moral seorang anak bangsa.

Dalam sejarah Kabupaten Kupang, nama Titu Eki bukan sekadar identitas keluarga, melainkan simbol komitmen terhadap pendidikan, kemanusiaan dan pengabdian. Dari sang ayah, Ayub Titu Eki mengalir pesan moral yang kini diterjemahkan sang putri melalui langkah-langkah sederhana namun sarat nilai.

“Setiap jabatan hanyalah titipan, dan selama kita masih diberi kesempatan melangkah, gunakanlah langkah itu untuk melihat, mendengar, dan berbagi.”

Kalimat itu menjadi gema yang menembus sekat waktu — mengingatkan kita bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang sanggup merendahkan hati untuk meninggikan makna kemanusiaan.

Dari hotel mewah tempat rapat nasional hingga trotoar kota yang dilalui rakyat kecil, perjalanan Aurum adalah simbol pergeseran makna kepemimpinan: dari ruang formal menuju ruang sosial; dari kebijakan yang dibacakan, menuju nilai yang dihidupkan.

Di setiap langkahnya, ada pelajaran bagi generasi muda bahwa kekuasaan sejati tidak terletak pada wewenang, melainkan pada kemampuan untuk menyentuh hati manusia lain.

Dan mungkin, di bawah langit Surabaya yang perlahan temaram, langkah-langkah kecil Wakil Bupati Kupang itu telah menulis sejarah kecil — bukan di lembar administrasi, tetapi di hati mereka yang percaya bahwa kerendahan hati adalah puncak tertinggi dari kepemimpinan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.