KUPANG,BBC — Di tengah semarak perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia, Kabupaten Kupang menorehkan sejarah kecil namun penuh makna. Kepemimpinan Bupati Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum Obe Titu Eki menghadirkan pameran ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan pelestarian budaya lokal, bertempat di Civic Center Oelamasi. Stand-stand dari berbagai kecamatan diisi dengan ragam produk unggulan desa: hasil pertanian, kerajinan tangan dan tenunan yang menjadi napas kebanggaan daerah.
Bukan sekadar bazar, pameran ini menjadi ruang temu antara rakyat dan pemimpinnya. Hampir setiap hari, Yosef Lede dan Aurum Obe Titu Eki berjalan kaki dari satu stand ke stand lain.
Mereka tidak hanya berfoto, tetapi berbincang santai, mendengar keluh kesah, dan memuji karya rakyatnya. Interaksi seperti ini menghidupkan kembali konsep kepemimpinan yang partisipatif—pemimpin hadir bukan di menara gading, melainkan di tengah denyut nadi warganya.
Momen yang paling menyentuh terjadi pada Selasa siang, 12 Agustus 2025, di stand Kecamatan Fatuleu yang terletak persis di depan kantor DPRD Kabupaten Kupang.
Di sana, Wakil Bupati Aurum Obe Titu Eki melihat selembar kain yang belum rampung. Benang-benang warna-warni masih menunggu untuk disatukan dalam pola yang sarat makna.
Tanpa ragu, Aurum melepaskan sepatu dinasnya, duduk di depan alat tenun, dan mulai menggerakkan jemari, dibimbing oleh ibu-ibu PPK Fatuleu. Seketika, suasana menjadi hening. Rakyat melihat seorang pemimpin tidak hanya mengamati, tetapi mengalami.
Aksi sederhana ini viral di media sosial. Namun bagi Aurum, ini bukan pencitraan. “Zaman boleh berubah, tapi budaya jangan kita lupakan,” ucapnya, seolah menegaskan bahwa modernisasi tak seharusnya menghapus akar identitas.
Dalam perspektif antropologi budaya, tindakan ini adalah simbol cultural embedding—pemimpin yang menanamkan diri dalam praktik budaya agar nilai-nilai itu tetap relevan di generasi berikutnya.
Kabupaten Kupang, seperti banyak wilayah di Indonesia Timur, memiliki cultural capital (modal budaya) yang sangat kuat. Tenun bukan sekadar kain; ia adalah narrative text yang ditulis dengan benang dan warna, mengisahkan sejarah, strata sosial dan filosofi hidup masyarakat.
Ketika pemimpin mau ikut menenun, pesan yang tersampaikan tidak hanya “saya peduli budaya”, tetapi juga “budaya ini layak menjadi pilar ekonomi rakyat.” Sebab, di era pasar global, tenun memiliki potensi ekspor, pariwisata dan pemberdayaan perempuan desa.
Program seperti pameran Civic Center bukan sekadar seremonial. Ia adalah strategi local branding yang memadukan nilai ekonomi dan nilai kultural. Stand-stand dari berbagai kecamatan bukan hanya etalase barang, tetapi juga etalase identitas.
Di hadapan perubahan zaman, teknologi dan globalisasi, pemimpin yang bersedia menunduk di hadapan alat tenun sedang mengajarkan sesuatu yang tak lekang oleh waktu: bahwa masa depan hanya kuat bila berakar pada masa lalu.
Seperti tenunan Fatuleu, setiap helai benang adalah satu generasi. Jika satu benang rapuh, pola menjadi cacat. Maka tugas bersama adalah menguatkan setiap helai: menjaga budaya, memberdayakan ekonomi dan menumbuhkan rasa bangga pada identitas.
Di jemari pemimpin, benang pun bicara,
Tentang kampung, tentang ibu, tentang tanah yang setia.
Zaman melaju, kota bertumbuh,
Tapi di setiap simpul, ada rumah yang tak runtuh.
Tenun Fatuleu, tenun hati kita,
Merajut sejarah, menutup luka.
Bila kita lupa, benang pun putus,
Tapi bila kita ingat, bangsa tak akan pupus.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
