Kupang,BBC – Di tengah semilir angin Nekamese yang membawa aroma tanah basah dan harumnya Semerbak, Jemaat Siloam Oelomin, Klasis Kupang Barat, merayakan Ibadah Bulan Kebangsaan dan Syukur Panen pada Minggu (10/8/2025).

Sebuah perayaan yang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan puisi kehidupan—pertemuan antara doa yang dipanjatkan, kerja keras yang dijalankan dan berkat yang dituai.

Hadir dalam peristiwa rohani ini Bupati Kupang Yosef Lede bersama Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, didampingi jajaran pemerintah daerah dan perwakilan DPRD.

Mereka hadir bukan sebagai tamu kehormatan semata, tetapi sebagai abdi negara yang diutus Tuhan, sebagaimana disampaikan dalam khotbah Pendeta Sody Nabunome: “Pemerintah adalah abdi Allah, ditetapkan untuk mendatangkan kesejahteraan. Jemaat pun harus berkolaborasi dengan pemerintah.”

Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menegaskan bahwa keberhasilan panen bukanlah semata buah usaha manusia, melainkan anugerah Tuhan yang berpadu dengan kerja keras dan ketekunan petani.

Tradisi lelang hulu hasil—mempersembahkan hasil pertama panen kepada Tuhan—disebutnya sebagai wujud iman konkret, sekaligus bentuk tanggung jawab untuk membangun gereja dan kehidupan bersama.

“Karena penyertaan Tuhan dan ketekunan bapak mama semua, maka berkat itu datang. Hulu hasil ini bukan sekadar tradisi, melainkan ungkapan syukur yang meneguhkan harapan,” ungkap Yosef Lede.

Bupati juga menggarisbawahi bahwa Kabupaten Kupang, dengan mayoritas penduduk yang menggantungkan hidup pada pertanian, memiliki peran penting dalam menopang ketahanan pangan hingga ke wilayah perkotaan.

Senada dengan itu, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma memuji kesuburan tanah Kabupaten Kupang yang menghasilkan beragam komoditas pangan. Menurutnya, berkat alam ini harus dikelola secara bijak untuk meningkatkan gizi masyarakat dan mengatasi masalah gizi

“Tanah yang subur adalah karunia Tuhan. Menanam berarti mengolah berkat dan berkat itu akan berlipat ganda bila kita bersyukur dan takut akan Tuhan,” tegas Johni.

Ia mengajak jemaat untuk tidak hanya memandang hasil panen sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai modal kasih untuk membangun masa depan generasi mendatang yang sehat dan sejahtera.

Ibadah syukur panen ini menjadi cermin kolaborasi antara gereja, pemerintah dan masyarakat. Gereja menabur pengajaran iman, pemerintah menyediakan kebijakan dan dukungan, sementara masyarakat mengolah tanah dengan peluh dan doa.

Peristiwa ini menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan angka statistik, tetapi juga tentang membangun hati yang penuh syukur dan tangan yang mau bekerja sama.

Dari tetes keringat di ladang hingga lumbung yang penuh, dari doa di rumah ibadah hingga kebijakan di ruang pemerintahan—Kabupaten Kupang mengajarkan bahwa kesejahteraan lahir dari kesatuan iman dan kerja keras.

Perayaan ini memberi pesan yang menggugah: syukur adalah pintu berkat, kerja keras adalah jalannya dan kolaborasi adalah jembatan yang menghubungkan keduanya.

Sebagaimana firman dalam Amsal 16:3, “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”

Di tanah yang subur ini, Jemaat Siloam Oelomin dan seluruh masyarakat Kabupaten Kupang telah membuktikan bahwa iman yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan menjadi sulam harapan yang tak lekang oleh waktu.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.