BBC — Di bawah terik matahari Siang di halaman Kantor Bupati Kupang, Senin, 21 Juli 2025, ratusan wajah bersinar penuh harapan.
Salah satu di antaranya adalah Rofinta Boko, guru honorer asal Kabupaten Ende yang telah mengabdi selama 17 tahun sebagai pendidik di wilayah terpencil.
Rofinta bukanlah sosok baru dalam dunia pendidikan dasar. Ia memulai tugasnya pada tahun 2010 di SDK Wafuneso, Kabupaten Ende.
Namun, ketika sang ayah yang juga seorang guru dipindah ke Kabupaten Kupang, Rofinta pun ikut berpindah. Hingga kini, ia tetap bertahan sebagai guru honorer di SD Inpres Kuka, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang.
Meski usianya telah menginjak 52 tahun, semangat pengabdiannya tidak pernah surut. Setiap pagi ia menyusuri jalan-jalan berbatu menuju sekolah, melewati medan yang tidak selalu ramah. Namun bagi Rofinta, mendidik adalah panggilan jiwa, bukan sekadar pekerjaan.
“Saya sudah mengabdi 17 tahun. Kalau Tuhan kasih umur panjang, saya masih punya waktu sekitar delapan tahun lagi untuk melayani anak-anak bangsa,” ucapnya lirih saat ditemui di bawah rindangnya pohon mangga.
Ucapan itu menjadi satu-satunya pernyataan yang ia sampaikan kepada awak media. Ia memilih lebih banyak diam, memeluk harapan dalam hening, seraya menanti SK Pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K)—sebuah pengakuan formal yang telah lama ia tunggu.
Bertahun-tahun mengajar tanpa kepastian status, tidak membuatnya lelah apalagi menyerah. Ia tidak hanya mengajarkan pelajaran sekolah, tetapi juga membentuk karakter, moralitas dan harapan bagi anak-anak di desa. Di kelas yang sederhana, Rofinta menjelma menjadi guru, ibu dan sahabat bagi para muridnya.
Status P3K, baginya, bukan hanya persoalan administratif. Lebih dari itu, ini adalah penghargaan atas konsistensi dan integritas seorang guru yang telah memilih bertahan ketika banyak orang lain memilih pergi.
Kisah Rofinta bukanlah cerita tunggal. Ia adalah representasi dari banyak guru honorer yang tetap teguh berdiri di garis terdepan pendidikan Indonesia, meskipun belum memperoleh perlakuan yang setimpal dari sistem.
Dalam wawancara singkat tersebut, tim media mencatat bahwa pengabdian Rofinta adalah potret realitas pendidikan di wilayah timur Indonesia: masih terdapat ketimpangan, tetapi juga cahaya keikhlasan dan ketulusan hati dari para pendidik yang memilih tetap menyala di tempat yang paling sunyi.
Kami mengajak pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk tidak menutup mata. Setiap kebijakan yang dikeluarkan memiliki dampak langsung pada nasib guru-guru seperti Rofinta. Pengakuan, pelindungan dan keberlanjutan harus menjadi bagian dari upaya bersama memperbaiki wajah pendidikan negeri ini.
Menanam jagung di ladang subur,
Tumbuh rimbun berbuah lebat.
Guru mengabdi dengan hati jujur,
Tak minta banyak, hanya penghargaan yang tepat.
Di ruang sempit, ia menyalakan terang,
Dengan kapur dan doa yang tak pernah hilang.
Ia ajarkan bukan hanya angka dan huruf,
Tapi cinta tanah air, hingga ke luruh.
Bukan karena gaji, bukan pula karena janji,
Tapi karena cinta, yang tak bisa dibagi.
Wahai negeri, bukalah matamu kini,
Di tangan guru-guru seperti Rofinta,
nasib bangsa ini dititipkan sepenuhnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
