BB – Dalam kunjungan kerja perdananya sebagai Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma menyambangi pesisir Kecamatan Sulamu, Jumat (16/5/2025).

Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah langkah konkret mendengar langsung suara rakyat, terutama petani rumput laut yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Menariknya, perjalanan Wakil Gubernur NTT ini dilakukan melalui jalur laut menggunakan kapal milik Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang dari Pelabuhan Tenau.

Setibanya di Sulamu, Johni Asadoma langsung menyusuri pesisir pantai bersama para kepala dinas provinsi dan disambut hangat oleh Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, serta jajaran Pemerintah Kabupaten dan masyarakat setempat.

Di lokasi budidaya rumput laut, Wagub Johni tak segan berdialog langsung dengan para petani, menanyakan proses budidaya hingga tantangan yang mereka hadapi.

Salah satu tokoh masyarakat dan petani senior, Haji Mahmud, menyebut bahwa terdapat lebih dari 800 pembudidaya di Sulamu, dengan siklus panen setiap 45 hari dan hasil yang cukup menjanjikan meski masih bergantung pada harga pasar dan kondisi laut.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyampaikan apresiasinya terhadap ketekunan masyarakat Sulamu. Ia menyebut bahwa petani dan nelayan telah menunjukkan bagaimana sumber daya alam dapat menjadi harapan hidup—bukan sekadar statistik pembangunan.

“Ketika masyarakat mampu berdiri di atas kakinya sendiri, pemerintah punya tanggung jawab untuk memberi dukungan lebih. Saya datang bukan hanya untuk melihat, tapi mendengar dan memperjuangkan,” tegas Johni.

Ia juga menyinggung pentingnya pendidikan dalam menunjang sektor ini ke depan. Dirinya mendorong agar generasi muda Sulamu mengambil peran strategis di bidang kelautan dan perikanan, yang kini menjadi prioritas pembangunan daerah.

“Kami berharap anak-anak Sulamu bisa bersekolah hingga jenjang tertinggi, khususnya di jurusan yang selaras dengan potensi daerah. Pendidikan adalah jembatan menuju keadilan ekonomi,” lanjutnya.

Di sisi lain, Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, memuji semangat gotong royong masyarakat Sulamu. Ia menegaskan bahwa budidaya rumput laut di Sulamu bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang peran keluarga, di mana perempuan dan anak-anak turut terlibat dalam proses produksi.

“Kami melihat Sulamu bukan lagi wilayah pinggiran, tapi pusat harapan. Ini bukti bahwa ketika masyarakat bergerak bersama, pemerintah wajib hadir sebagai mitra yang mendengar dan menindaklanjuti,” ujar Aurum Titu Eki.

Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi antara sektor pendidikan dan potensi lokal. Menurutnya, peningkatan sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar.

Kunjungan ini memberi angin segar bagi masyarakat Sulamu. Dicabutnya Pergub No. 29 tentang pengelolaan dan harga jual rumput laut yang selama ini dianggap merugikan petani, menjadi bukti konkret bahwa pemerintah tidak menutup telinga terhadap aspirasi rakyat.

Lebih dari sekadar kunjungan, pertemuan antara pemerintah dan masyarakat ini menjadi simbol bahwa laut bukanlah batas, tetapi jendela harapan.

Di Sulamu, laut telah berbicara, dan kini, pemerintah mulai mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.