FK – Putri Aprilia Charisima, salah satu dari 18 korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) asal Nusa Tenggara Timur (NTT), tak kuasa menahan air matanya saat berdialog dengan Menteri Sosial Tri Rismaharani di Sentra Efata Naibonat, Kabupaten Kupang.
Pertemuan ini berlangsung dalam rangka pemulihan dan pemberdayaan korban TPPO yang dilakukan oleh Kementerian Sosial.Putri, bersama 17 korban lainnya, diamankan oleh pihak berwenang di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada 19 Juli 2024.
Mereka merupakan calon pekerja migran ilegal yang dijanjikan pekerjaan di luar negeri, seperti Hongkong, Singapura, dan Taiwan. Namun, harapan mereka hancur karena kontrak kerja yang mengikat dan kenyataan pahit yang mereka hadapi.
Dalam sesi dialog yang emosional, Putri Aprilia Charisima (23), yang berasal dari daerah dengan kondisi sumber daya air yang terbatas, mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya.
Dengan suara bergetar, ia menceritakan mimpinya yang belum terwujud dan ketidakmampuannya untuk mundur setelah terjebak dalam situasi sulit tersebut.
Menteri Sosial Tri Rismaharani, yang hadir untuk meninjau kondisi para korban, memberikan dukungan moral yang mendalam. Sambil menepuk bahu Putri, Risma menegaskan bahwa Tuhan tidak tidur dan selalu ada harapan bagi mereka yang berusaha.
Risma juga memberikan nasihat agar para korban mengikuti pelatihan yang disediakan oleh Sentra Efata, seperti tata boga, pertanian, beternak, dan menenun, untuk membantu mereka bangkit dan mandiri.
Program rehabilitasi dan pemberdayaan yang dilaksanakan di Sentra Efata Naibonat ini merupakan upaya pemerintah untuk mengembalikan hak dan martabat para korban TPPO.
Pelatihan yang disediakan berlangsung selama satu hingga dua bulan, tergantung pada jenis keterampilan yang dipilih, dan disesuaikan dengan minat serta kondisi daerah asal para korban.
Momen haru juga terjadi ketika Mensos menawarkan solusi bagi Sariyanti Ngongo (25), korban lainnya yang ingin bekerja di luar negeri demi membiayai pengobatan orang tuanya.
Risma menawarkan bantuan medis bagi orang tua Sariyanti melalui fasilitas yang ada di Sentra Efata.Tri Rismaharani menekankan bahwa pemulihan tidak hanya untuk para korban, tetapi juga bagi keluarga mereka.
Ia mendorong para korban untuk mengikuti lebih dari satu pelatihan agar bisa meningkatkan produktivitas mereka dan membangun masa depan yang lebih baik.
Kisah Putri Aprilia Charisima dan para korban TPPO lainnya menggambarkan betapa pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam memerangi perdagangan manusia serta memberikan harapan baru bagi mereka yang telah menjadi korban.
Kementerian Sosial terus berkomitmen untuk memberikan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan bagi mereka yang terdampak, memastikan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
