<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Polisi &#8211; BuserBindo.Com</title>
	<atom:link href="https://buserbindo.com/tag/polisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://buserbindo.com</link>
	<description>Buru Sergap Bhayangkara Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Jun 2026 15:12:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://buserbindo.com/wp-content/uploads/2024/03/cropped-thumb-32x32.png</url>
	<title>Polisi &#8211; BuserBindo.Com</title>
	<link>https://buserbindo.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dua Terduga Pelaku Pelemparan di Camplong Berhasil Ditangkap Polisi, Diamankan di Naunu dan Tolnaku</title>
		<link>https://buserbindo.com/hukum-kriminal/dua-terduga-pelaku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aminadab Bones]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2026 14:57:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Berhasil Ditangkap]]></category>
		<category><![CDATA[Camplong]]></category>
		<category><![CDATA[Diamankan]]></category>
		<category><![CDATA[Dua Terduga]]></category>
		<category><![CDATA[naunu]]></category>
		<category><![CDATA[Pelaku Pelemparan]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Tolnaku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://buserbindo.com/?p=8853</guid>

					<description><![CDATA[KUPANG, BBC – Respons cepat dan kerja keras jajaran Polsek Fatuleu bersama Tim Reserse Polres Kupang kembali membuahkan hasil. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, aparat kepolisian berhasil mengamankan dua terduga pelaku yang diduga terlibat dalam kasus pelemparan yang terjadi di wilayah Camplong, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Keberhasilan tersebut menjadi bukti keseriusan kepolisian dalam menjaga keamanan dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://buserbindo.com/tag/buserbindo"><strong>KUPANG, BBC</strong></a> – Respons cepat dan kerja keras jajaran Polsek Fatuleu bersama Tim Reserse Polres Kupang kembali membuahkan hasil. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, aparat kepolisian berhasil mengamankan dua terduga pelaku yang diduga terlibat dalam kasus pelemparan yang terjadi di wilayah Camplong, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.</p>
<p>Keberhasilan tersebut menjadi bukti keseriusan kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat sekaligus menjawab harapan warga agar setiap dugaan tindak pidana ditangani secara profesional, cepat dan terukur.</p>
<p>Informasi yang diperoleh tim media menyebutkan, terduga pelaku berinisial MAR berhasil diamankan di Desa Naunu, sedangkan AT ditangkap di Desa Tolnaku. Keduanya diketahui berasal dari Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.</p>
<p>Penangkapan kedua terduga pelaku merupakan hasil kerja lapangan yang dilakukan aparat kepolisian melalui proses penyelidikan dan pengumpulan informasi.</p>
<p>Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen kepolisian dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat serta memastikan setiap laporan yang diterima ditindaklanjuti sesuai prosedur hukum yang berlaku.</p>
<p>Keberhasilan ini juga menunjukkan pentingnya sinergi antara personel Polsek Fatuleu dan Polres Kupang dalam mengungkap perkara yang menjadi perhatian publik.</p>
<p>Kinerja yang cepat, terukur dan profesional seperti ini menjadi modal penting dalam memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.</p>
<p>Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan, pihak Humas Polres Kupang belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi penangkapan, motif dugaan tindak pidana, maupun peran masing-masing terduga dalam perkara tersebut.</p>
<p>Tim media masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat dan berimbang.</p>
<p>Media ini tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Oleh karena itu, MAR dan AT masih berstatus sebagai terduga pelaku sampai adanya penetapan hukum atau putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.</p>
<p>Masyarakat kini menantikan penjelasan resmi dari Polres Kupang mengenai perkembangan penyidikan perkara tersebut. Sementara itu, keberhasilan pengungkapan kasus ini menjadi cerminan dedikasi aparat di lapangan yang bekerja tanpa mengenal waktu demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Kabupaten Kupang.</p>
<p>Prestasi seperti ini layak mendapat perhatian dan apresiasi sebagai bagian dari upaya mendorong budaya kerja kepolisian yang profesional, presisi dan berorientasi pada pelayanan publik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hadiah Natal Mengharukan dari Polsek Fatuleu: Terfina Lake, Warga Lansia Sebatang Kara, Akhirnya Nikmati Terang Listrik untuk Pertama Kalinya</title>
		<link>https://buserbindo.com/regional/hadiah-natal-mengharukan-dari-polsek-fatuleu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aminadab Bones]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2025 01:55:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Regional]]></category>
		<category><![CDATA[Akhirnya Nikmati Terang Listrik]]></category>
		<category><![CDATA[Hadiah Natal]]></category>
		<category><![CDATA[kapolsek fatuleu]]></category>
		<category><![CDATA[maks tameno]]></category>
		<category><![CDATA[Mengharukan dari Polsek Fatuleu]]></category>
		<category><![CDATA[Penegak hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Pertama Kalinya]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Terfina lake]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Lansia Sebatang Kara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://buserbindo.com/?p=7559</guid>

					<description><![CDATA[Kupang, BBC — Suasana haru menyelimuti Dusun Dua, Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Di tengah kesunyian hidup seorang lansia yang bertahan sendiri tanpa suami dan anak, secercah cahaya baru akhirnya hadir pada perayaan Natal tahun ini. Terfina Lake, perempuan yang hidup sebatang kara, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasakan terang listrik berkat hadiah Natal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kupang, BBC</strong> — Suasana haru menyelimuti Dusun Dua, Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Di tengah kesunyian hidup seorang lansia yang bertahan sendiri tanpa suami dan anak, secercah cahaya baru akhirnya hadir pada perayaan Natal tahun ini.</p>
<p>Terfina Lake, perempuan yang hidup sebatang kara, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasakan terang listrik berkat hadiah Natal dari Polsek Fatuleu.</p>
<p>Bantuan ini berupa pemasangan meteran listrik yang sebelumnya tak pernah dimiliki Terfina. Sejak sebelum Indonesia merdeka, hingga delapan dekade setelah kemerdekaan, rumah sederhana tempat ia berteduh tak pernah dialiri listrik. Gelap malam adalah teman setianya, dan lampu minyak menjadi penerang yang ia andalkan sepanjang hidup.</p>
<p>Kini, untuk pertama kalinya, senja di rumah Terfina tidak lagi pekat. Ada cahaya baru yang menyingkap kesendiriannya, menghadirkan harapan di usia senjanya.</p>
<p>Kehadiran listrik bukan hanya memudahkan, tetapi juga menghangatkan batinnya yang selama ini hidup dalam sunyi.</p>
<p>Kapolsek Fatuleu, Maks Tameno menjelaskan kepada media pada Jumat, 5 Desember 2025, bahwa bantuan tersebut adalah bentuk kepedulian terhadap warga yang hidup dalam kesulitan.</p>
<p>“Lebih baik membantu orang yang susah dan lemah. Itu jauh lebih baik daripada kita hidup namun tidak berbuat apa-apa untuk orang lain,” ungkapnya dengan nada penuh ketulusan.</p>
<p>Dalam penjelasan berikutnya, Maks Tameno menegaskan bahwa tugas kepolisian tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan setiap warga merasakan kehadiran negara.</p>
<p>“Kita bukan hanya penjaga ketertiban, kita juga penjaga harapan. Ketika ada warga yang hidup dalam gelap, maka tugas kitalah menyalakan terang bagi mereka,” katanya, menggambarkan betapa pentingnya sentuhan kemanusiaan dalam menjalankan tugas.</p>
<p>Ia juga menambahkan bahwa tindakan kecil dapat memberi dampak besar bagi hidup seseorang.</p>
<p>“Tidak semua orang membutuhkan bantuan besar. Kadang mereka hanya butuh perhatian, sentuhan kecil dan kehadiran kita. Jika satu lampu bisa mengubah hidup seorang ibu tua, maka itu lebih berharga dari apapun,” ucapnya lagi, penuh makna.</p>
<p>Dalam pernyataannya yang lain, Maks Tameno menekankan bahwa momen Natal adalah waktu terbaik untuk berbagi kasih.</p>
<p>“Natal selalu mengajarkan kita untuk memberi, bukan sekadar menerima. Hari ini kita memberi listrik, namun sesungguhnya kita sedang memberikan harapan. Dan harapan adalah hadiah terbaik bagi mereka yang hampir menyerah,” ujarnya, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.</p>
<p>Kalimat-kalimat itu mengalir bukan sekadar sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai panggilan kemanusiaan. Di tengah rutinitas aparat penegak hukum, tindakan kecil yang membawa dampak besar seperti ini menjadi pengingat bahwa kehadiran negara harus dirasakan oleh seluruh rakyat, terutama mereka yang hampir terlupakan.</p>
<p>Pemasangan listrik bagi Terfina bukan hanya soal fasilitas, melainkan simbol kasih, kepedulian, dan perhatian. Cahaya yang kini menerangi malam-malamnya seakan menjadi doa tak bersuara—bahwa ia tidak benar-benar sendiri, bahwa masih ada tangan-tangan yang ingin mengangkat dan mendukungnya.</p>
<p>Warga sekitar pun ikut merasakan kehangatan momen tersebut. Banyak yang mengakui bahwa bantuan ini menjadi inspirasi untuk lebih saling peduli, terlebih menjelang perayaan Natal yang sarat makna kasih.</p>
<p>Aksi tersebut menjadi pengingat bahwa masih banyak ruang bagi manusia untuk berbuat baik, meski di tengah kesibukan dan keterbatasan.</p>
<p>Hadiah Natal dari Polsek Fatuleu ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu harus besar. Kadang, cukup dengan menyalakan satu lampu di rumah seorang lansia, kita juga tengah menyalakan harapan di hatinya. Cahaya itu bukan hanya menerangi ruang, tetapi juga melunakkan kesunyian yang selama ini menyelimuti hari-harinya.</p>
<p>Di rumah kecil di Desa Tolnaku itu, Natal tahun ini terasa lebih terang—bukan hanya karena listrik yang baru menyala, tetapi karena kasih yang menyertainya.</p>
<p>Dalam terang yang lembut itu, tersimpan harapan baru, bahwa setiap manusia pantas mendapatkan perhatian, cinta dan cahaya dalam hidup mereka.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dianiaya Karena Cemburu, Gadis Oe’Ekam Laporkan Kekasih PPPK ke Polisi</title>
		<link>https://buserbindo.com/hukum-kriminal/dianiaya-karena-cemburu-gadis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aminadab Bones]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2025 10:18:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[aniaya pacar]]></category>
		<category><![CDATA[arnol manes]]></category>
		<category><![CDATA[Dianiaya Karena Cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[dinas kesehatan tts]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Oe’Ekam]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Laporkan Kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[Nmds]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Pppk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://buserbindo.com/?p=7359</guid>

					<description><![CDATA[SoE, BBC — Di balik lembutnya kisah cinta, tersimpan rapuhnya hati yang dikhianati. Kasus dugaan penganiayaan oleh seorang oknum Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi cermin getir tentang bagaimana api cemburu dapat menjelma menjadi luka. Arnol Manes, seorang sopir yang baru diangkat sebagai PPPK di Dinas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://buserbindo.com/tag/buserbindo"><strong>SoE, BBC</strong></a> — Di balik lembutnya kisah cinta, tersimpan rapuhnya hati yang dikhianati. Kasus dugaan penganiayaan oleh seorang oknum Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Dinas K<a href="http://Kesehatan">esehatan</a> Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi cermin getir tentang bagaimana api cemburu dapat menjelma menjadi luka.</p>
<p><a href="http://Arnol">Arnol </a><a href="http://Arnol Manes">Manes,</a> seorang sopir yang baru diangkat sebagai PPPK di Dinas Kesehatan TTS, kini resmi dilaporkan ke polisi atas dugaan penganiayaan terhadap kekasihnya, N.M.D.S — gadis 25 tahun asal Oe’Ekam, Kecamatan Amanuban Timur — yang datang membawa cinta, namun pulang membawa perih.</p>
<p>Peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 8 November 2025 di Desa Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan.</p>
<p>Menurut penuturan YS, kerabat dekat korban, hari yang seharusnya diisi pertemuan kasih justru berubah menjadi malam penuh tangis dan luka.</p>
<p>“Hari Sabtu 08 November 2025, N.M.D.S (korban) tiba di rumah Arnol Manes sekitar pukul 17.00 Wita dari Oe’Ekam Amanuban Timur. Saat masuk ke rumah Arnol Manes di Desa Oinlasi Kecamatan Mollo Selatan, korban mendapati seorang gadis yang sedang berada di dalam kamar tidur Arnol Manes,” ungkap YS kepada media</p>
<p>Kehadiran perempuan lain di ruang yang seharusnya menjadi saksi keintiman dua insan, memantik bara dalam dada.</p>
<p>“Mendapati seorang perempuan dalam kamar tidur, menjadi awal musibah bagi <a href="http://N.M.D.S,">N.M.D.S,</a>dimana korban sempat mempertanyakan siapa perempuan yang berada di kamar tidur Arnol Manes hingga berujung percekcokan antara korban dan Arnol Manes,” jelas YS.</p>
<p>Pertengkaran yang lahir dari rasa ingin tahu itu, berakhir dengan kepalan tangan dan hentakan kaki.</p>
<p>Dalam cerita yang disampaikan kepada keluarganya, korban menggambarkan bagaimana cinta yang dulu hangat kini berubah menjadi serangan fisik yang menorehkan luka tak hanya di tubuh, tapi juga di jiwa.</p>
<p>“Sesuai cerita dari N.M.D.S, cekcok yang terjadi berakhir dengan korban dianiaya. Dipukul di bagian mulut menggunakan kepalan tangan, ditendang di bagian paha dan Arnol Manes mengakhiri pukulannya di bagian punggung korban,” tutur YS lirih.</p>
<p>Setelah mengalami kekerasan itu, N.M.D.S memilih jalur hukum — langkah berani di tengah trauma dan rasa malu yang kerap membungkam banyak perempuan.</p>
<p>Ia mendatangi Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Timor Tengah Selatan dan melaporkan peristiwa tersebut agar hukum berbicara di atas luka.</p>
<p>Berdasarkan Surat Tanda Terima Laporan <a href="http://Polisi">Polisi</a>Nomor: STTLP/B/478/XI/2025/SPKT/POLRES TTS tertanggal 08 November 2025, Arnol Manes kini resmi berstatus terlapor atas dugaan tindak pidana penganiayaan.</p>
<p>Arnol Manes bukan sosok asing di lingkungan kerjanya. Ia baru saja diangkat menjadi <a href="http://PPPK">PPPK </a>di Dinas Kesehatan TTS — sebuah amanah publik yang seharusnya menjadi simbol pengabdian, bukan pelanggaran.</p>
<p>Karena itu, keluarga korban berharap agar pemerintah daerah, khususnya Kepala Dinas Kesehatan, dapat memberikan sanksi tegas terhadap pelaku.</p>
<p>“Atas kejadian ini, kami keluarga korban meminta kepada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan melalui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan agar dapat memberikan sanksi kepada yang bersangkutan atas perbuatannya,” tegas YS, kerabat dekat korban.</p>
<p>Kasus ini menambah catatan kelam tentang kekerasan terhadap perempuan di Timor Tengah Selatan — sebuah wilayah yang kaya budaya kasih, namun masih sering dipenuhi kisah luka yang lahir dari tangan-tangan yang seharusnya melindungi.</p>
<p>Dalam sunyi, di antara luka dan rasa malu, N.M.D.S kini menanti keadilan. Sebab cinta yang tulus tak seharusnya berakhir dengan pukulan dan kesetiaan tak patut dibalas dengan kekerasan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aiptu Ady Datang Membawa Berkat, Oma Marselina Menjawabnya dengan Tatapan dan Air Mata</title>
		<link>https://buserbindo.com/regional/aiptu-ady-datang-membawa-berkat-oma-marselina-menjawabnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aminadab Bones]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2025 12:18:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Regional]]></category>
		<category><![CDATA[Beras]]></category>
		<category><![CDATA[bhabinkamtibmas]]></category>
		<category><![CDATA[Datang Membawa Berkat]]></category>
		<category><![CDATA[Iptu Ady]]></category>
		<category><![CDATA[Kotolin]]></category>
		<category><![CDATA[Kupang]]></category>
		<category><![CDATA[minyak goreng]]></category>
		<category><![CDATA[Oma Marselina Menjawabnya dengan Tatapan dan Air Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[telur]]></category>
		<category><![CDATA[Tts]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://buserbindo.com/?p=7005</guid>

					<description><![CDATA[Kupang, BBC — Di sebuah perkampungan sunyi di pelosok Desa Hoibeti, Kecamatan Kot’olin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), waktu seperti berjalan pelan. Angin berhembus lembut di antara rumah-rumah berdinding bebak yang mulai kusam dimakan usia. Di salah satu rumah itu, tinggal seorang perempuan tua bernama Oma Marselina Benu, 72 tahun, seorang saksi hidup ketabahan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://buserbindo.com/tag/buserbindo"><strong>Kupang, BBC</strong></a> — Di sebuah perkampungan sunyi di pelosok Desa Hoibeti, Kecamatan Kot’olin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), waktu seperti berjalan pelan. Angin berhembus lembut di antara rumah-rumah berdinding bebak yang mulai kusam dimakan usia.</p>
<p>Di salah satu rumah itu, tinggal seorang perempuan tua bernama Oma Marselina Benu, 72 tahun, seorang saksi hidup ketabahan yang setiap hari menenun harapan dari reruntuh sederhana kehidupan.</p>
<p>Pagi itu, langkah seorang aparat negara mendekat perlahan. Aiptu Ady Samadara, Bhabinkamtibmas Polres TTS, datang bukan membawa surat perintah atau berita duka, melainkan membawa berkat kecil dalam wujud beras, telur dan minyak goreng — sederhana, tapi sarat makna kemanusiaan.</p>
<p>Ia mengenakan seragam dinas lengkap, namun yang terpancar dari dirinya bukan ketegasan hukum, melainkan kelembutan nurani.</p>
<p>Di hadapan rumah berdinding bebak dan berlantai tanah itu, dua dunia bertemu: dunia yang berjuang di tengah keterbatasan dan dunia yang bertekad menjaga martabat kemanusiaan. Dalam pertemuan itu, kata-kata tidak banyak diucapkan, tetapi keheningan berbicara dengan bahasa yang lebih dalam daripada suara.</p>
<p>Oma Marselina menatap tamunya dengan wajah keriput yang memancarkan kelelahan dan kesabaran. Tatapan itu tidak sekadar pandangan mata seorang lansia kepada polisi, tetapi pandangan manusia kepada sesama manusia — sebuah pengakuan diam bahwa cinta dan kepedulian masih ada di tengah dunia yang sering lupa pada orang-orang kecil.</p>
<p>Aiptu Ady menundukkan kepala. “Saya hanya ingin berbagi, oma. Jangan lihat nilainya, lihat niatnya,” ujarnya dengan nada yang nyaris tenggelam di antara desir angin dan bunyi dedaunan kering. Kalimat itu sederhana, tapi memiliki bobot moral yang kuat.</p>
<p>Ia mengandung nilai empati sosial, etika pelayanan publik dan kesadaran moral yang menjadi inti dari pengabdian sejati seorang aparat negara.</p>
<p>Dalam perspektif sosial-humaniora, tindakan kecil seperti yang dilakukan Ady bukan sekadar amal individual, tetapi merupakan manifestasi moralitas publik — bentuk konkret dari ethos kemanusiaan yang menjembatani jarak antara kekuasaan dan kemiskinan, antara negara dan rakyat kecil. Ia menunjukkan bahwa negara tidak hanya hadir lewat hukum, tetapi juga lewat kasih.</p>
<p>Oma Marselina tak mampu berkata banyak. Bibir tuanya gemetar, matanya basah dan dari relung wajah yang keriput itu, mengalir doa yang begitu lembut: doa syukur yang lahir dari rasa dihargai. Air matanya jatuh perlahan ke tanah, menyatu dengan debu rumahnya yang sederhana — simbol ketulusan yang lebih berharga dari ucapan panjang mana pun.</p>
<p>Masyarakat sekitar yang menyaksikan pun terdiam. Tak ada tepuk tangan, tak ada sorak, hanya diam panjang yang penuh makna. Karena di hadapan mereka, mereka menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bantuan sosial — mereka menyaksikan sentuhan moral dari hati manusia kepada hati manusia lain.</p>
<p>Kisah ini menjadi refleksi sosial atas pentingnya etika kepedulian dalam struktur pelayanan negara. Aparat seperti Aiptu Ady telah menunjukkan bahwa dalam ruang paling sepi dan rumah paling sederhana sekalipun, nilai-nilai luhur tentang justice with compassion dapat hadir.</p>
<p>Dari rumah daun itu, kita belajar bahwa kemanusiaan tidak memerlukan panggung besar. Ia hanya butuh ruang kecil di hati, dan keberanian untuk mengetuk pintu orang yang mungkin sudah lama dilupakan dunia.</p>
<p>Sore mulai turun di Hoibeti. Matahari memudar di balik bukit, meninggalkan rona keemasan yang lembut. Oma Marselina duduk di kursi kecil, memandangi bantuan yang baru diterimanya dengan mata sendu namun tenang. Ia tahu, hari itu bukan sekadar hari menerima beras dan telur, tapi hari di mana Tuhan datang berkunjung lewat seragam seorang polisi yang berhati manusia.</p>
<p>Dan di langit yang mulai gelap, doa itu pun terucap pelan — begitu pelan hingga hanya Tuhan yang mungkin mendengarnya:<br />
“Terima kasih, Tuhan… karena Engkau masih mengirim orang baik untuk mengingat kami yang tersisa di sudut dunia ini.”</p>
<p>Fenomena seperti ini, jika ditinjau dari dimensi etika pelayanan publik dan studi sosial kemanusiaan, merupakan bentuk transformative empathy — suatu tindakan kecil yang memiliki daya sosial besar dalam memperkuat kohesi sosial antara aparatur dan masyarakat marginal.</p>
<p>Ketika kebijakan sering kali berjalan di atas kertas, tindakan seperti Ady menjadi praktik nyata moralitas publik yang menghidupkan makna sejati dari semboyan Polri Presisi — polisi yang humanis, melindungi dan melayani dengan hati.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Air Mata Bahagia Oma Terfina Lake: Polisi dan Sekdes Temani Kupas Asam di Gubuk Sederhana</title>
		<link>https://buserbindo.com/regional/air-mata-bahagia-oma-terfina-lake-polisi-dan-sekdes-temani/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aminadab Bones]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2025 07:25:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Regional]]></category>
		<category><![CDATA[Air Mata Bahagia Oma Terfina Lake:]]></category>
		<category><![CDATA[Fatuleu]]></category>
		<category><![CDATA[I wayan bagyaartha]]></category>
		<category><![CDATA[jemi yanrey bait]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Kupang]]></category>
		<category><![CDATA[Peduli dengan masyarakat rentan]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi dan Sekdes Temani Kupas Asam di Gubuk Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Polsek Fatuleu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://buserbindo.com/?p=6819</guid>

					<description><![CDATA[Kupang, BBC – Kehidupan seorang lansia kerap menjadi cermin kesendirian, kesabaran, sekaligus kekuatan hati. Itulah yang tergambar dari sosok Oma Terfina Lake, seorang perempuan renta berusia sekitar 90 tahun yang tinggal seorang diri di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Di usia senjanya, Oma Terfina menghuni sebuah gubuk sederhana berdinding bebak, berlantai tanah dan beratap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><a href="https://buserbindo.com/tag/buserbindo"><strong>Kupang, BBC</strong></a> – Kehidupan seorang lansia kerap menjadi cermin kesendirian, kesabaran, sekaligus kekuatan hati. Itulah yang tergambar dari sosok Oma Terfina Lake, seorang perempuan renta berusia sekitar 90 tahun yang tinggal seorang diri di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.</p>
<p>Di usia senjanya, Oma Terfina menghuni sebuah gubuk sederhana berdinding bebak, berlantai tanah dan beratap daun. Meski kondisi fisiknya rapuh, senyum tulus masih menyertai wajahnya.</p>
<p>Pada Jumat, 19 September 2025, pukul 14.30 WITA, kebahagiaan sederhana itu kembali hadir ketika ia dijenguk oleh Bhabinkamtibmas Polsek Fatuleu, I Wayan Bagyaartha bersama Sekretaris Desa Tolnaku, Jemi Yanrey Bait.</p>
<p>Di hadapan pintu gubuknya, Oma Terfina ditemani oleh asam yang selalu menjadi sahabat kesepiannya. Saat melihat kedatangan polisi berseragam lengkap, wajah Oma seketika merekah bahagia.</p>
<p>Tanpa ragu, I Wayan Bagyaartha duduk di tanah di samping Oma, disusul Sekretaris Desa Jemi Yanrey Bait. Mereka bertiga larut dalam kebersamaan sederhana: mengupas asam bersama.</p>
<p>Dengan kelembutan, Bhabinkamtibmas bertanya kepada Oma apakah ia sudah makan. Dengan tersenyum, Oma menjawab lirih, “Sudah, Pak.” Sambil mengupas asam, Oma mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya.</p>
<p>Ia menuturkan bahwa sejak zaman Belanda, keluarganya sudah ada di tanah ini, melewati pahit getir kehidupan dengan tabah.</p>
<p>Hidup di gubuk reyot yang hampir roboh, Oma Terfina menjalani hari-hari tanpa keluarga yang mendampingi. Hanya doa, kesabaran dan rasa syukur yang menjadi teman setia.</p>
<p>Ketika ditanya soal persediaan pangan, ia menjawab dengan tenang, “Beras masih ada satu karong.” Jawaban sederhana itu justru menorehkan luka di hati siapa pun yang mendengar, karena mengingatkan betapa rentannya kehidupan di usia senja.</p>
<p>Namun di balik segala keterbatasan itu, Oma tetap menuturkan rasa syukurnya. Dengan bahasa Indonesia yang baik, ia menyampaikan bahwa hanya Tuhan yang mampu membalas segala kebaikan aparat kepolisian yang peduli kepadanya.</p>
<p>Kunjungan sederhana ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata bahwa kepolisian hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, melainkan juga pelindung, pengayom dan sahabat rakyat kecil.</p>
<p>Kehangatan yang dibawa oleh Bhabinkamtibmas dan Sekretaris Desa Tolnaku menjadi bukti bahwa kehadiran negara harus menyentuh mereka yang paling lemah.</p>
<p>Air mata bahagia Oma Terfina adalah kesaksian nyata bahwa perhatian kecil pun dapat menghidupkan kembali harapan.</p>
<p>Dalam senyum tulusnya, tersimpan pesan mendalam: kemuliaan hidup bukan ditentukan oleh materi, melainkan oleh kasih sayang dan kepedulian.</p>
<p>Kisah ini mengajarkan bahwa masih banyak Oma Terfina lain yang tersembunyi di pelosok desa. Mereka menanti uluran tangan, sekadar perhatian atau sebungkus beras untuk bertahan hidup.</p>
<p>Pemerintah, aparat dan masyarakat perlu menjadikan pengalaman ini sebagai panggilan moral untuk lebih peduli terhadap para lansia yang hidup dalam kesendirian.</p>
<p>Karena sesungguhnya, dalam diri seorang lansia seperti Oma Terfina, tersimpan sejarah, pengalaman dan doa yang tak ternilai.</p>
<p>Menyentuh hati mereka adalah menghormati perjalanan panjang kehidupan, serta menegaskan kembali bahwa kemerdekaan dan pembangunan tidak boleh meninggalkan satu pun jiwa yang lemah dan rapuh.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sinergi Hebat,Mahasiswa, Polisi, dan Advokat Bersatu Demi Pemudik</title>
		<link>https://buserbindo.com/kesehatan/sinergi-hebatmahasiswa-polisi-dan-advokat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aminadab Bones]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2025 10:51:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Advokat Bersatu]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pemudik]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sinergi Hebat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://buserbindo.com/?p=4939</guid>

					<description><![CDATA[BB – Dalam rangka memastikan arus mudik Lebaran 2024 berjalan lancar dan aman, mahasiswa Stikes Nusantara bekerja sama dengan Kepolisian Daerah NTT serta para advokat dari Peradi Oelamasi turun langsung ke lapangan. Mereka memberikan layanan kesehatan gratis kepada pemudik di Pos Pengamanan (Pospam) Oesapa, Kota Kupang. Ketua Stikes Nusantara, Albert Tulle, S.Kep., MM, melalui perwakilannya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://buserbindo.com/tag/buserbindo"><strong>BB</strong></a> – Dalam rangka memastikan arus mudik Lebaran 2024 berjalan lancar dan aman, mahasiswa Stikes Nusantara bekerja sama dengan Kepolisian Daerah NTT serta para advokat dari Peradi Oelamasi turun langsung ke lapangan.</p>
<p>Mereka memberikan layanan kesehatan gratis kepada pemudik di Pos Pengamanan (Pospam) Oesapa, Kota Kupang.</p>
<p>Ketua Stikes Nusantara, Albert Tulle, S.Kep., MM, melalui perwakilannya Veni Tasya Lauata, mengungkapkan bahwa mahasiswa dari kampusnya hadir untuk membantu pemudik. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain:</p>
<p>Veni Tasya Lauata</p>
<p>Delma Wati Nomleni</p>
<p>Divania De Almeida Pereira</p>
<p>Dortia Mau Bodda</p>
<p>Mereka siaga di Pospam Oesapa dari pukul 09.00 hingga 17.00 WITA untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik. Program ini berlangsung dari 29 Maret hingga 8 April 2024.</p>
<p>Pos Pengamanan Oesapa tidak hanya diisi oleh tenaga medis dari Stikes Nusantara, tetapi juga diawaki oleh petugas kepolisian, di antaranya:</p>
<p>Ipda Beni G. Diwi</p>
<p>Aipda Paulus Akerina</p>
<p>Bripka Putu Eko</p>
<p>Bripda Juardi Alfreido Lette</p>
<p>Ipda Beni G. Diwi membenarkan adanya bantuan dari Stikes Nusantara dalam memberikan pemeriksaan tensi darah gratis bagi pemudik.</p>
<p>“Kehadiran mahasiswa kesehatan ini sangat membantu, terutama bagi masyarakat yang kelelahan dalam perjalanan,” ujar Ipda Beni.</p>
<p>Tak hanya aparat kepolisian dan mahasiswa, para advokat dari Peradi Oelamasi Kabupaten Kupang juga turut hadir di pos pengamanan ini.</p>
<p>Ian Gilbert Rangga Boro, S.H., M.H., Sekretaris Peradi Oelamasi, menyampaikan bahwa ia dan rekan – rekannya awalnya dalam perjalanan untuk melayat seorang rekan advokat yang kehilangan ayahnya.</p>
<p>Namun, mereka melihat banyak masyarakat yang mampir untuk mendapatkan layanan kesehatan, sehingga mereka ikut serta dalam kegiatan ini.</p>
<p>Ketua Peradi Oelamasi, Herry Battileo, S.H., M.H., juga menyampaikan apresiasinya kepada jajaran kepolisian dan mahasiswa Stikes Nusantara yang telah berkontribusi dalam membantu masyarakat.</p>
<p>“Ini bentuk kepedulian nyata terhadap masyarakat. Terima kasih kepada aparat kepolisian dan adik-adik mahasiswa yang telah turun langsung ke lapangan,” ujarnya.</p>
<p>Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian nyata bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan mudik. Dengan adanya layanan kesehatan gratis, diharapkan pemudik dapat melakukan perjalanan dengan kondisi tubuh yang lebih fit dan prima.</p>
<p>“Kesehatan pemudik adalah prioritas utama. Dengan adanya kolaborasi antara Stikes Nusantara, kepolisian, dan advokat, kami berharap masyarakat bisa merasakan manfaatnya dan menjalani perjalanan dengan aman serta nyaman,” pungkas Veni Tasya Lauata.</p>
<p>Sinergi antara mahasiswa, kepolisian, dan advokat dalam membantu masyarakat di Pospam Oesapa menjadi bukti bahwa kepedulian sosial dapat terwujud melalui kerja sama yang baik.</p>
<p>Dengan adanya layanan kesehatan gratis ini, pemudik yang melewati Kota Kupang bisa mendapatkan pengecekan kesehatan untuk memastikan mereka tetap bugar selama perjalanan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polisi Buru Bukti di Balik Penganiayaan Maut Istri ASN di NTT</title>
		<link>https://buserbindo.com/hukum-kriminal/polisi-buru-bukti-di-balik-penganiayaan-maut-istri-asn-di-ntt/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aminadab Bones]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Aug 2024 13:32:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Bukti-bukti Penganiayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Istri ASN]]></category>
		<category><![CDATA[Penganiayaan Maut]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi Buru Bukti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://buserbindo.com/?p=1604</guid>

					<description><![CDATA[BB – Polisi kini tengah memburu bukti-bukti penting terkait kasus penganiayaan maut yang menimpa JMM (52), seorang istri Aparatur Sipil Negara (ASN) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Josefina tewas setelah diduga dianiaya oleh suaminya sendiri, Albert Solo, di rumah mereka yang berlokasi di Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, pada Sabtu malam, 10 Agustus 2024. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400"><a href="https://buserbindo.com/tag/buserbindo"><strong>BB </strong></a>– Polisi kini tengah memburu bukti-bukti penting terkait kasus penganiayaan maut yang menimpa JMM (52), seorang istri Aparatur Sipil Negara (ASN) di Nusa Tenggara Timur (NTT).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Josefina tewas setelah diduga dianiaya oleh suaminya sendiri, Albert Solo, di rumah mereka yang berlokasi di Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, pada Sabtu malam, 10 Agustus 2024.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Kapolresta Kupang, Kombes Pol. Aldinan RJH Manurung, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap seluruh fakta di balik kematian tragis ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">&#8220;Kami sedang mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan dari berbagai saksi untuk mengungkap kebenaran kasus ini. Dugaan sementara korban mengalami penganiayaan dengan benda tumpul, namun kami masih menunggu hasil visum et repertum untuk memastikan penyebab kematian secara pasti,&#8221; ujar Kombes Pol. Aldinan kepada wartawan di Rumah Sakit Leona Kupang, Senin, 12 Agustus 2024 malam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Penganiayaan yang dialami Josefina terjadi setelah ia pulang dari kegiatannya di kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Diaspora) Provinsi NTT. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Menurut keterangan sepupu korban, Ones Putra, yang turut berada di Rumah Sakit Leona Kupang, aksi kekerasan ini disaksikan oleh beberapa tetangga yang tinggal di sekitar rumah mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">&#8220;Para tetangga sebenarnya ingin melerai, tetapi mereka diancam oleh suaminya yang diduga sedang dalam keadaan mabuk,&#8221; jelas Ones.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Josefina, yang tidak sadarkan diri akibat penganiayaan tersebut, langsung dilarikan ke Rumah Sakit Leona Kupang oleh para tetangga. Namun, meskipun telah mendapatkan perawatan intensif, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Senin sore, 12 Agustus 2024.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Jenazah Josefina telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang untuk dilakukan visum et repertum guna mengungkap penyebab pasti kematiannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Pihak kepolisian, yang terus melakukan penyelidikan intensif, telah meminta keterangan dari saksi-saksi di lokasi kejadian dan sedang mengumpulkan bukti-bukti tambahan untuk memperkuat dugaan adanya penganiayaan yang menyebabkan kematian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Kasus ini telah menarik perhatian publik, terutama karena melibatkan kekerasan dalam rumah tangga yang berujung pada kematian seorang ASN di NTT. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Polisi berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dan memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Kapolresta Kupang juga mengimbau masyarakat agar lebih proaktif dalam melaporkan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, mengingat banyaknya kejadian serupa yang sering kali tidak terungkap ke publik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Pihak kepolisian berkomitmen untuk menindak tegas pelaku kekerasan dan mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Tragedi ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak akan bahaya kekerasan dalam rumah tangga dan perlunya upaya bersama untuk melindungi setiap anggota keluarga dari kekerasan fisik maupun psikologis.</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
