KUPANG, BBC — Ada perjalanan yang tidak cukup diukur dengan jarak. Ada penantian yang tidak mampu dijelaskan hanya dengan hitungan kalender. Dan ada doa yang terus berlayar, seperti samudra yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak meski berkali-kali diterpa angin dan gelombang.

Perjalanan panjang itu menemukan titik haru di Jemaat Elim Uitao, Minggu (4/10/2026) pagi.

Bupati Kupang Yosef Lede menghadiri Ibadah Pentahbisan sekaligus Perayaan Hari Ulang Tahun Jemaat Elim Uitao. Momentum tersebut menjadi penanda penting bagi jemaat setelah pembangunan gedung gereja dikerjakan secara bertahap selama kurang lebih 20 tahun, sejak April 2006 hingga September 2026.

Namun, pagi itu bukan sekadar tentang sebuah bangunan yang akhirnya selesai.
Ada dua puluh tahun yang tersimpan di balik setiap dinding. Ada doa yang pernah dinaikkan dalam kesunyian. Ada tangan-tangan yang bekerja dalam keterbatasan. Ada harapan yang dijaga agar tidak karam. Dan ada kebersamaan yang menjadi layar ketika perjalanan terasa panjang.

Bagi sebagian orang, 20 tahun mungkin hanya angka. Tetapi bagi Jemaat Elim Uitao, dua dekade adalah sebuah perjalanan yang penuh cerita.

Seperti sebuah perahu kecil yang mengarungi samudra luas, pembangunan gedung gereja itu melewati gelombang waktu. Kadang laut tenang, kadang angin datang membawa ujian. Namun layar kebersamaan terus dibentangkan hingga akhirnya perjalanan itu tiba di sebuah pelabuhan bernama syukur.

Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaat dan panitia pembangunan yang telah menunjukkan ketekunan, kebersamaan dan semangat gotong royong dalam menyelesaikan pembangunan rumah ibadah tersebut.

Menurut Bupati, proses pembangunan selama 20 tahun bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, melalui kerja bersama, dukungan berbagai pihak dan penyertaan Tuhan, pembangunan gedung gereja akhirnya dapat diselesaikan dan dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan.

“Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Karena itu, hari ini kita patut bersyukur. Apa yang telah dibangun ini bukan hanya sebuah bangunan, tetapi menjadi rumah doa, rumah persekutuan dan rumah bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman,” ujar Bupati.

Kalimat itu seperti membuka kembali halaman panjang perjalanan Elim Uitao.
Sebab sebuah gereja tidak pernah hanya terdiri dari batu, semen, kayu, atap dan dinding.

Gereja adalah tempat manusia datang membawa luka, menundukkan kepala dalam doa, menemukan pengharapan, serta belajar bahwa kehidupan tidak pernah harus dijalani seorang diri.

Di dalam gereja, hati manusia belajar menjadi seperti samudra: luas untuk menerima, dalam untuk memahami dan kuat untuk menampung berbagai gelombang kehidupan.

Bupati Yosef Lede menegaskan, selesainya pembangunan gedung gereja hendaknya tidak menjadi akhir dari perjuangan jemaat, tetapi menjadi awal untuk semakin memperkuat kehidupan persekutuan dan pelayanan.

Ia mengajak seluruh jemaat untuk terus merawat persekutuan, sehingga gereja tidak hanya bertumbuh dari sisi jumlah, tetapi terutama bertumbuh dalam iman dan kehidupan bersama di dalam Kristus.

“Gereja sudah bagus, tetapi harus terus bertumbuh. Bertumbuh bukan hanya dalam konteks jumlah, tetapi bertumbuh dalam Kristus. Karena itu, yang paling penting adalah bagaimana kita merawat persekutuan,” pesan Bupati.

Pesan tersebut membawa jemaat pada satu kesadaran: menyelesaikan gedung bukan berarti menyelesaikan perjalanan.
Waktu dapat menyelesaikan tembok, tetapi waktu tidak otomatis membangun hati.
Tangan manusia dapat mendirikan bangunan yang kokoh, tetapi kasih, iman dan persekutuanlah yang membuat gereja tetap hidup.

Gedung dapat menjadi indah karena arsitektur. Tetapi jemaat menjadi indah karena kasih.

Atap dapat melindungi manusia dari hujan, tetapi persekutuan dapat melindungi hati manusia dari kesepian

Karena itu, setelah dua puluh tahun membangun gedung, Elim Uitao kini memasuki perjalanan yang lebih panjang dan lebih dalam: membangun hati.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kupang akan terus hadir dan membangun kemitraan strategis bersama gereja dan masyarakat.

“Pemerintah dan gereja adalah mitra strategis. Kita harus bersama-sama membangun jemaat, membangun masyarakat dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik,” ungkap Bupati.

Pembangunan masyarakat memang tidak pernah menjadi pekerjaan satu tangan.
Pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan kebijakan dan pelayanan publik. Gereja memiliki peran dalam membangun kehidupan iman dan nilai-nilai kemanusiaan. Sementara masyarakat menjadi kekuatan yang menghidupkan seluruh proses tersebut.

Ketiganya seperti perahu yang berlayar di samudra yang sama. Jika setiap dayung bergerak sendiri-sendiri, arah perjalanan dapat kehilangan keseimbangan. Namun ketika semua tangan bergerak dalam irama kebersamaan, ombak sebesar apa pun dapat dihadapi.

Sebab pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang gedung yang berdiri, jalan yang terbuka atau fasilitas yang tersedia.

Pembangunan adalah tentang manusia yang tumbuh di dalamnya—manusia yang memiliki iman, kepedulian, solidaritas dan keberanian untuk berjalan bersama.

Di akhir sambutannya, Bupati Yosef Lede juga menyampaikan selamat merayakan Hari Ulang Tahun kepada seluruh Jemaat Elim Uitao.

Ia berharap momentum pertambahan usia jemaat yang ke-100 tahun menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sekaligus menjadi dorongan untuk terus memperkuat iman, persaudaraan dan kebersamaan dalam pelayanan.

“Selamat ulang tahun kepada Jemaat Elim Uitao. Kiranya di usia yang ke-100 tahun, jemaat semakin bertumbuh dalam iman kepada Kristus, semakin kuat dalam persekutuan dan terus menjadi berkat bagi masyarakat,” ungkap Bupati.

Seratus tahun bukan perjalanan yang pendek.
Ia adalah samudra waktu yang luas.
Di dalamnya ada generasi yang telah datang dan pergi. Ada orang-orang yang mungkin dahulu berdoa agar suatu hari rumah ibadah itu berdiri dengan sempurna, tetapi tidak sempat menyaksikan hari pentahbisannya.
Ada tangan-tangan yang pernah mengangkat batu, mengerjakan bagian demi bagian pembangunan, tetapi kini tinggal nama dalam kenangan.

Ada suara-suara yang dahulu memenuhi ruang persekutuan dengan nyanyian, tetapi kini telah menjadi bagian dari keheningan masa lalu.

Namun iman tidak berhenti di sana.
Apa yang ditanam oleh satu generasi diteruskan oleh generasi berikutnya. Seperti ombak yang datang silih berganti, tetapi tetap berasal dari samudra yang sama.

Sementara itu, dalam ungkapan hati keluarga jemaat yang disampaikan Simson Luin, dijelaskan bahwa Jemaat Elim Uitao merupakan jemaat dengan jumlah anggota yang relatif kecil, yakni sekitar 60 kepala keluarga dengan jumlah warga jemaat sekitar 220 orang dan anggota sidi sebanyak 129 orang.

Meski memiliki keterbatasan dari sisi jumlah dan sumber daya, jemaat tetap berkomitmen menyelesaikan pembangunan gedung gereja sebagai bagian dari kebutuhan pelayanan dan kehidupan persekutuan jemaat.

“Ini bukan untuk mencari nama atau bersaing dengan tempat lain. Ini adalah bagian dari kebutuhan jemaat. Kami percaya Tuhan itu Mahakaya dan akan membuka jalan bagi kami,” ungkapnya.

Pernyataan itu sederhana, tetapi menyimpan kedalaman yang panjang.
Sebab iman tidak selalu lahir dari kelimpahan.
Kadang iman justru tumbuh dari keterbatasan.
Ketika sumber daya terbatas, manusia belajar berharap. Ketika jalan terasa panjang, manusia belajar bersabar. Ketika kekuatan hampir habis, manusia belajar menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan.

Jemaat Elim Uitao mungkin kecil dari sisi jumlah. Namun perjalanan mereka memperlihatkan bahwa ukuran sebuah jemaat tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang ada di dalamnya.

Kadang, kebesaran iman justru terlihat dari kemampuan untuk tetap bertahan ketika gelombang kehidupan datang tanpa henti.
Dua Puluh Tahun yang Menjadi Kesaksian
Pembangunan gedung gereja Jemaat Elim Uitao berlangsung kurang lebih 20 tahun, dimulai pada April 2006 dan diselesaikan pada September 2026.

Pembangunan dilakukan secara bertahap, meliputi pekerjaan fisik bangunan, pembangunan pagar keliling, penyelesaian kebutuhan interior dan finishing hingga tahapan pentahbisan dan peresmian.

Dua puluh tahun itu akhirnya menjadi saksi bahwa sesuatu yang dikerjakan bersama, meski perlahan, dapat mencapai garis akhir.
Seperti perjalanan mengarungi samudra, tidak semua pelayaran membutuhkan kapal besar.
Yang paling penting adalah arah, ketekunan dan keberanian untuk terus mengayuh.
Dan Elim Uitao telah mengayuhnya selama dua puluh tahun.

Jemaat Elim Uitao sendiri memiliki sejarah pelayanan yang telah berlangsung sejak sekitar tahun 1926.

Dengan demikian, perayaan HUT jemaat yang ke-100 tahun menjadi momentum penting untuk mensyukuri perjalanan panjang pelayanan sekaligus memperkuat komitmen jemaat dalam membangun iman dan kehidupan bersama.

Jika waktu adalah samudra, Jemaat Elim Uitao telah melewati begitu banyak gelombang.

Ada masa ketika perahu mereka mungkin nyaris kehilangan arah. Ada saat ketika angin bertiup terlalu kuat. Namun mereka tetap berlayar.

Hari ini, mereka tidak hanya merayakan sebuah gedung yang selesai dibangun.
Mereka sedang merayakan kesetiaan.
Kesetiaan manusia untuk bekerja bersama.
Kesetiaan jemaat untuk tetap berharap.
Dan terutama, keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka di tengah samudra kehidupan.

Sebab pada akhirnya, bangunan akan mengalami usia. Cat akan memudar. Dinding akan dimakan waktu.

Tetapi iman yang dirawat dalam persekutuan dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dua puluh tahun telah mereka gunakan untuk membangun sebuah gedung. Tetapi seratus tahun telah mengajarkan mereka bahwa rumah Tuhan yang sesungguhnya bukan hanya bangunan yang berdiri di atas tanah, melainkan hati manusia yang terus menjadi tempat bersemayamnya kasih, iman, persaudaraan dan pengharapan.

Turut hadir dalam ibadah tersebut Anggota DPRD Kabupaten Kupang Absalom Buy, Wakil Sekretaris Sinode GMIT Zimrat Karmani, Kepala Bank NTT Cabang Oelamasi Edward Hede, Kepala Dinas Peternakan Oktaviana Manulangga, Kepala Dinas Pariwisata Marthen Timate, Kepala Dinas Kesehatan Desemiyeti Ngatrian, Kasat Pol PP Aprion Lona, Camat Semau, Semau Selatan dan Amabi Oefeto Timur, Klasis Semau dan para pendeta, serta para kepala desa.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.